Startup TaniGroup besutan mantan karyawan Bank Dunia garap pendanaan Rp 144 miliar

Rabu, 29 Mei 2019 | 15:40 WIB ET
(istimewa)
(istimewa)

JAKARTA, kabarbisnis.com: TaniGroup, startup besutan mantan karyawan World Bank dkk, menutup putaran pendanaan Seri A senilai US$10 juta (sekitar Rp 144 miliar) yang dipimpin Openspace Ventures dalam kesepakatan terbaru di sektor agrikultur teknologi Indonesia.

Investor lain yang mendukung putaran ini adalah Intudo Ventures, Golden Gate Ventures, dan The DFS Lab, akselerator fintech yang didanai oleh Bill dan Melinda Gates Foundation. Babak baru ini mengikuti investasi pra-Seri A di TaniGroup oleh Alpha JWC Ventures dan beberapa angel investor pada awal 2018.

"Ada masalah besar untuk diatasi, banyak petani masih membutuhkan bantuan, dan kesempatan untuk membangun rantai pasokan yang lebih kuat untuk memberikan hasil bumi yang bagus kepada masyarakat Indonesia dengan biaya terbaik," kata pendiri dan CEO TaniGroup Ivan Arie Sustiawan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Pendanaan terbaru itu akan mempercepat ekspansi bisnis dan pengembangan produk baru. Hingga saat ini, perusahaan telah bermitra dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi internasional dan lokal, serta startup agritech lain.

"Dalam waktu dekat, kami ingin mengundang startup pertanian lainnya untuk berkolaborasi karena ruang pertanian Indonesia masih besar dan sangat tradisional," kata dia.

Didirikan pada 2016, TaniGroup mendirikan ekosistem pasar pertanian lewat TaniHub, serta pemberi pinjaman peer-to-peer (P2P), TaniFund.Melalui TaniHub, konsumen dapat membeli produk segar langsung dari petani. Transaksi business-to-business (B2B) jadi fokus besar perusahaan.

Namun, baru-baru ini mereka memperluas layanan ke pasar B2C dengan aplikasi mobile farm-to-table. Perusahaan besutan Pamitra Wineka itu mengklaim sudah menghubungkan petani dengan lebih dari 400 usaha kecil dan menengah (UMKM), serta lebih dari 10.000 pelanggan individu.Sementara itu, TaniFund memberikan pinjaman untuk proyek budi daya kepada petani yang tidak memiliki akses ke lembaga keuangan formal.

Pembiayaan terbaru menandai putaran terbesar yang diajukan oleh perusahaan agritech Indonesia sejauh ini. Ini juga menggarisbawahi peningkatan startup dan minat investor di sektor pertanian negara ini, yang merupakan kontributor terbesar kedua untuk PDB Indonesia. kbc11

Bagikan artikel ini: