Menperin klaim kontribusi industri manufaktur RI-Jerman setara

Kamis, 9 Mei 2019 | 20:04 WIB ET
Menperin Airlangga Hartarto
Menperin Airlangga Hartarto

JAKARTA, kabarbisnis.com: Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan masih memberi kontribusi terbesar pada struktur produk domestik bruto (PDB) nasional hingga 20,07% di triwulan I 2019. Jumlah tersebut naik dibanding capaian sepanjang 2018 yakni sebesar 19,86%.

“Dari capaian 20% tersebut, laporan World Bank juga menunjukkan, Indonesia menempati peringkat kelima di antara negara G20," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Airlangga menilai posisi Indonesia hampir sejajar dengan Jerman, yang kontribusi sektor manufakturnya berada di angka 20,6%. Sementara itu, posisi teratas ditempati Tiongkok dengan jumlah 28,8% disusul Korea Selatan 27%, dan Jepang 21%.

Negara-negara industri di dunia kontribusi sektor manufakturnya terhadap perekonomian saat ini rata-rata sekitar 17%. Negara tersebut antara lain Meksiko, India, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Prancis, Kanada, dan Inggris.“Artinya, sekarang tidak ada negara di dunia yang bisa mencapai di atas 30%," ujarnya.

Menurut Airlangga melalui sumbangsih sektor manufaktur yang cukup besar, tidak tepat jika Indonesia dikatakan sebagai negara yang mengalami deindustrialisasi.“Apalagi, saat ini, Indonesia masuk dalam 16 besar negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia," imbuhnya.

Melalui Making Indonesia 4.0, diharapkan Indonesia dapat masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada 2030 mendatang.Sedangkan berdasarkan hasil studi PwC dan McKinsey, Indonesia mampu masuk daftar 7 besar ekonomi dunia pada 2045, bahkan menjadi ekonomi terbesar ke-4 di usia 100 tahun.

Di samping itu, berdasarkan data BPS pertumbuhan industri pengolahan nonmigas mencapai 4,80% pada triwulan I 2019. Jumlah tersebut meningkat dibanding perolehan sepanjang tahun 2018 yang berada di angka 4,77%.

Sektor manufaktur yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri tekstil dan pakaian jadi yakni sebesar 18,98%. Disusul industri pengolahan tembakau yang tumbuh hingga 16,10%, kemudian industri furnitur tumbuh 12,89% serta industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 11,53%.

Kinerja positif juga tampak dari industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman yang mengalami pertumbuhan 9,22%, industri logam dasar tumbuh 8,59%, serta industri makanan dan minuman tumbuh 6,77%.

Sektor-sektor manufaktur ini yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan I 2019 sebesar 5,07%. Sebagian besar industri tersebut sedang mendapat prioritas pengembangan sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0.

Di sisi lain, geliat industri manufaktur Indonesia juga terlihat dari capaian purchasing manager index (PMI) yang dirilis oleh Nikkei."Kalau kita lihat kondisi industri saat ini berdasarkan PMI, tingkat kepercayaan dari pelaku industri cukup tinggi. PMI indeks kita selalu di atas 50, kecuali Januari. Karena saat Januari kontrak baru dikasih.Ini juga menandakan bahwa mereka melihat iklim usaha di Indonesia tetap kondusif dan telah mampu mengelola ekonomi melalui norma baru," ujarnya.

Airlangga optimistis memasang target pertumbuhan industri nonmigas sebesar 5,4% pada 2019. Adapun sektor-sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi di antaranya industri makanan dan minuman, industri permesinan, industri tekstil dan pakaian jadi, serta industri kulit barang dari kulit dan alas kaki.

"Industri manufaktur merupakan tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu menjadi sektor andalan dalam memacu pemerataan terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat yang inklusif," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: