Ambisi Menperin Airlangga jadikan RI sebagai 'Manufacturing Hub Asean'

Selasa, 7 Mei 2019 | 19:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengungkapkan Indonesia berencana untuk membuka lebih banyak sektor bagi investor asing, dan mengkaji undang-undang ketenagakerjaan. Upaya tersebut dilakukan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur regional, menyaingi Jerman dan Korea Selatan.

Menurut Airlangga Indonesia akan mengandalkan industri otomotif, bahan kimia, dan elektronik untuk mendorong kontribusi sektor manufaktur agar mencapai 25% perekonomian nasional pada 2025, dari sekitar 20% pada saat ini. Ia meyakini, langkah ini akan membantu meningkatkan ekspor dan mengatasi defisit neraca transaksi berjalan.

"Target kami adalah menjadi pusat manufaktur Asean," kata Airlangga kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Ditegaskan Indonesia akan berupaya untuk melampaui Jerman dan Korea Selatan, atau menyamakannya dengan Cina sebagai basis industri manufaktur, dari kendaraan listrik hingga produk petrokimia.Memasuki masa jabatan lima tahun kedua, Presiden Joko Widodo, berencana untuk meremajakan sektor manufaktur untuk mendorong pertumbuhan, membantu mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan, dan menciptakan banyak lapangan kerja. 

Ekonomi Indonesia telah tumbuh sekitar 5,% per tahun, jauh dari target % persen, karena dinilai terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah.Airlanga mengatakan inisiatif pemerintah untuk meningkatkan peran industri manufaktur akan mencakup pelonggaran daftar negatif investasi, yang mengatur tingkat kepemilikan asing di sejumlah sektor.

Selain itu menerapkan pembebasan pajak perusahaan domestik dan asing, dan mereformasi undang-undang perburuhan.Menurutnya dalam masa pemerintahan yang kedua, Jokowi memiliki mandat dan dukungan politik yang lebih besar untuk menangani masalah-masalah sensitif seperti hukum perburuhan, salah satu faktor kunci yang dinilai telah menghambat masuknya investor asing.

Dengan berkembangnya industri mobil listrik, Indonesia menargetkan produksi mobil bertenaga baterai bisa mencapai 20 persen dari total output industri pada tahun 2025. Peta jalan yang disiapkan oleh pemerintah akan melibatkan pabrikan otomotif yang ada, seperti Toyota Motor Corp dan Mitsubishi Motors Corp, serta pembuat kendaraan listrik China seperti BYD Co. dan Wuling Motors Holdings.

"Beberapa pemain ada yang sudah melakukan proyek percontohan di Indonesia, seperti Mitsubishi, Toyota dan sepeda motor Honda.Jika mereka mau mengembangkan prototipe dan proyek percontohan, berarti mereka berkomitmen untuk berinvestasi lebih lanjut," ujarnya.

Presiden sendiri, sambung Airlangga  telah menjanjikan insentif pajak kepada perusahaan-perusahaan yang mau berinvestasi di kendaraan listrik. Di pihak lain pemerintah akan membuat biaya kepemilikan mobil berbahan bakar fosil menjadi lebih mahal, yang bertujuan menghemat dana sekitar Rp 798 triliun dengan mengurangi ketergantungan dan impor minyak mentah.

Indonesia akan mengandalkan cadangan bijih nikelnya yang melimpah, sebagai bahan baku utama dalam pembuatan baterai kendaraan atau peralatan listrik, sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik bagi perusahaan asing yang ingin memperluas produksi.

"Apa yang Indonesia butuhkan, selain revitalisasi sektor manufaktur adalah revitalisasi sistem inovasi dengan fokus pada manufaktur dan ekonomi digital," tutup Airlangga.kbc11

Bagikan artikel ini: