TPID Jatim perlu atasi kenaikan harga bawang putih

Jum'at, 3 Mei 2019 | 11:06 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa Tim TPID harus mengambil langkah konkrit terhadap sejumlah komoditas yang telah menunjukkan kenaikan harga yang signifikan, diantaranya bawang putih, bawang merah dan cabai merah.

 

“Kita harus memastikan bahwa Operasi Pasar yang telah kita lakukan selama ini efektif untuk menurunkan harga komoditas tersebut. Jangan sampai komoditas yang kita salurkan malah dimanfaatkan oleh tengkulak,” tegas Emil saat memimpin rapat koordinasi High Level Meeting (HLM) TPID Jawa Timur dengan tema “Ketersediaan, Keterjangkauan Harga Bahan Pokok Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (Puasa dan Idul Fitri Tahun 2019)”

di Surabaya, Kamis (2/5/2019).

Pada kesempatan tersebut, Emil melakukan diskusi dan bertukar pikiran dengan pelaku pasar dan dinas terkait permasalahan yang dihadapi dalam menyalurkan sejumlah komoditas ke masyarakat, seperti penyaluran bawang putih ke Gresik yang terkendala banjir dan ditutupnya akses jalan.

 

“Dinas Perhubungan dan pemerintah kabupaten harus dapat mencari solusi agar komoditas tersebut tersalurkan sehingga tidak terjadi kelangkaan. Dan selama Ramadhan, kita memiliki harga psikologis yang dapat menjadi patokan kewajaran pergerakan harga komoditas. Harga psikologis inilah yang perlu kita kaji bersama apakah cukup wajar sehingga tidak menimbulkan inflasi yang berlebihan,” tutur Emil

 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Difi A. Johansyah, mengatakan, selain sejumlah komoditas pangan yang memiliki kecenderungan untuk mengalami kenaikan harga pada masa Ramadhan seperti telur ayam ras dan daging ayam ras, faktor lain yang perlu diwaspadai adalah tekanan inflasi pada kelompok administered price, seperti tarif angkutan.

 

“Yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bila kita lihat bersama dalam 2 (dua) tahun terakhir, tekanan inflasi pada periode HBKN lebih dominan disebabkan oleh tekanan harga pada kelompok administered price yaitu tarif angkutan,” jelas Difi.

 

Untuk itu, menurutnya perlu dilakukan upaya–upaya untuk meminimalkan dampak kenaikan tarif angkutan (darat, udara, laut) tersebut terhadap tekanan inflasi Jawa Timur pada periode HBKN..

Secara umum, Difi menuturkan, salah satu permasalahan yang dihadapi oleh Jawa Timur adalah disparitas harga antar Kabupaten/Kota yang masih relatif tinggi yang terindikasi dari perbedaan harga komoditas pada sejumlah kabupaten/kota yang berada pada kawasan yang sama.

 

“Kita perlu grand design program pengembangan berbasis kawasan, yang difokuskan pada komoditas pangan unggulan di masing-masing daerah secara Jatim-wide. Selain itu, penguatan koordinasi antar Kabupaten-Kota/Provinsi/Kawasan, penguatan data untuk mengetahui efektivitas program, ketersediaan stok dan disparitas harga serta pembentukan atau optimalisasi Pusat Distribusi Provinsi/Regional juga dibutuhkan,” jelas Difi.

“TPID Jatim pun kini telah memiliki terobosan baru melalui kerjasama E-Warung dengan marketplace Bukalapak untuk penjualan sejumlah komoditas. Dengan program seperti ini, tentu barang akan lebih efektif sampai ke masyarakat dan mampu memotong jalur distribusi,” tutur Difi.

Sama seperti tahun sebelumnya, pada Ramadhan kali ini, TPID Jatim pun menjamin ketersediaan stok komoditas pangan strategis, seperti beras yang dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Jatim hingga akhir tahun, gula pasir, tepung terigu dan komoditas lainnya. Dengan stok yang sangat mencukupi tersebut, TPID Jatim menghimbau kepada masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga stabilitas inflasi di Jawa Timur yaitu dengan membeli barang secukupnya dan sewajarnya karena pasokan pangan Jawa Timur menjelang Lebaran diperkirakan aman.kbc6

Bagikan artikel ini: