Pemprov Jatim gandeng Unusa dan ICSB petakan potensi ekonomi pesantren

Kamis, 18 April 2019 | 21:35 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berkomitmen untuk meningkatkan ekonomi pesantren. Kali ini, bersama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan International Council for Small Business (ICSB) Indonesia, pemprov Jatim berupaya memetakan potensi ekonomi pesantren di Jawa Timur (Jatim) guna merealisasikan program “one pesantren one product” di Jatim. 

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan ada sekitar 6 ribu pesantren di Jatim yang jika dikembangkan dengan baik akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Untuk itu, Pemprov Jatim menganggap perlu untuk melakukan pemetaaan sehingga akan memudahkan dalam pengembangannya kedepan.

“Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemprov Jatim dengan UNUSA dan ICSB ini kami berharap pemetaan potensi ekonomi di seluruh pesantren di Jatim bisa dilakukan,” ujar Emil usai penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) di kampus Unusa Surabaya, Kamis (18/4/2019)

Dari pemetaan tersebut, maka akan diketahui produk apa yang dimiliki pesantren dan selanjutnya bisa dikembangkan. Sehingga nantinya bisa timbul “kepakaran” melalui program one pesantren one product (satu pesantren satu produk). Melalui program ini, Pemprov Jatim ingin membangun ekonomi pesantren sebagai satu kekuatan. Salah satu produk pesantren yang masuk dalam pemetaan itu adalah air minum santri yang sekarang sudah dipasarkan di sejumlah pesantren. 

“Kita mau menanamkan dan  berkonsentrasi membangun kepakaran di pesantren. Bahwa, sukses itu bukan dari coba-coba, tetapi ada keseriusan dan kepakaran. Dan itu kita mulai dari program one pesantren one product ini,” tandasnya.

Rektor Unusa Prof Dr Ir Achmad Jazidie M.Eng mengatakan kekuatan wirausaha di ponpes sangatlah luar biasa. Program ‘Satu Pesantren Satu Produk’. diharapkan dapat menghasilkan produk pesantren modern yang dikelola para santri. Guna membantu menciptakan produk wirausaha pesantren yang modern, ponpes perlu pendampingan institusi. “Para santri pelaku entrepreneur perlu pembinaan konsep dan akses pemasaran, teknik pengemasan, strategi harga, hingga penyusunan laporan keuangan,” katanya.

Apalagi Pemprov Jatim saat ini juga tengah mengembangkan communal branding, yakni satu merek yang bisa dimanfaatkan oleh banyak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Jatim agar produk UMKM di Jatim memiliki akses pasar yang luas dan kuat. Karena untuk bisa mencapainya, produk tersebut haruslah berbasis manajemen yang kuat, yakni memiliki product management, customer management dan brand management. 

Emil menambahkan communal branding ini sudah diterapkan di Trenggalek untuk produk batik. “Satu merek batik bisa dimanfaatkan oleh banyak pengusaha batik,” imbuhnya.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof Dr Ir Achmad Jazidie M.Eng mengatakan communal branding akan membantu pelaku UMKM yang memiliki lini bisnis yang sama. “Banyak produk UMKM dikembangkan melalui communal branding ini seperti kopi di sekitar pegunungan Wilis. Artinya, kebutuhan kopi Wilis bisa disuplai dari Kediri atau Trenggalek. Begitu pula dengan sate ayam Ponorogo,” ujarnya.

Hermawan Kartajaya, Chairman of Internastional Council for Small Business (ICSB) menyatakan bahwa membangun satu merek yang kuat itu tidaklah gampang. “Communal branding bisa mengatasi kesulitan yang dihadapi pelaku UMKM selama ini untuk memasarkan satu merk. Karena sulit juga memasarkan merk baru. Kalau ada satu merek yang bisa dimanfaatkan ramai-ramai tentu akan lebih mudah, apalagi ada yang membantu memasarkan, dan membuka akses pasarnya. Di luar negeri seperti di Jerman, communal branding ini terbukti berhasil,” pungkas Hermawan.kbc6

Bagikan artikel ini: