Bas Kayu, ikon transportasi pariwisata Karimun di Festival Barongsai 2019

Kamis, 18 April 2019 | 10:45 WIB ET

TANJUNG BALAI KARIMUN – Pariwisata Tanjung Balai Karimun menawarkan beragam experience terbaik. Salah satunya transportasi umum Bas Kayu. Umur moda transportasi ini sudah cukup tua. Ikon ini mampu bertahan hingga kini dan dilestarikan sebagai angkutan wisata. Bas Kayu selalu jadi opsi utama Festival Barongsai 2019.

 

Festival Barongsai 2019 akan digelar 26-27 April. Lokasinya ada di Panggung Rakyat Puteri Kemuning, Coastal Area, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau (Kepri). Festival ini akan diikuti 14 tim, seperti Malaysia dan Singapura. 

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani pun mengungkapkan, Festiva Barongsai 2019 selalu memberikan experience mengagumkan.

 

“Festival Barongsai 2019 adalah event besar. Pesertanya datang juga dari mancanegara. Terlepas dengan kontennya yang sangat menarik, festival ini menawarkan sisi eksotis lain. Wisatawan bisa menikmati moda transportasi unik Bas Kayu selama di Karimun,” ungkap Rizki, Rabu (17/4).

 

Melestarikan sejarah menjadi  gambaran tepat buat Bas Kayu. Moda ini pernah mengalami kejayaan di masanya. Secara etimologi, kata ‘Bas’ diadopsi dari Bahasa Melayu yang artinya Bus.Mungkin, ketenaran Bas Kayu setara dengan oplet Mandra di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Di masa lalu, oplet adalah sarana transportasi andalan warga Jakarta.

 

Namun, nasib Bas Kayu tampaknya sedikit lebih beruntung. Karena moda transportasi tua ini sekarang dioperasikan untuk aktivitas pariwisata. Bas Kayu biasanya digunakan sebagai transportasi di Festival Barongsai. Moda ini menjadi alat antar-jemput dari hotel menuju venue dan sebaliknya. Kapasitas mobil ini cukup besar dengan bangku panjang membujur saling berhadapan.

 

Agar bisa memuat lebih banyak penumpang, pada bagian tengah ditambah bangku panjang dari kayu juga. Rizki menambahkan, Bas Kayu menjadi daya tarik lain pariwisata Karimun. “Karimun memang luar biasa karena masih mempertahankan moda transportasi tua seperti Bas Kayu. Moda ini jadi daya tarik bagi wisatawan. Selain sejarahnya, bentuk fisik dari Bas Kayu ini sangat unik,” lanjut Rizki lagi.

 

Pada rentang waktu 1980 hingga 1995, Bas Kayu menjadi urat nadi transportasi warga Karimun. Namun, mulai masuknya angkot ke Karimun pada 1993, mengubah nasib Bas Kayu. Untuk mempertahankan eksistensinya, Bas Kayu pun menjadi prioritas angkutan pariwsiata. Keunikan moda ini karena Bas Kayu menggunakan perpaduan antara besi dan kayu sebagai body-nya.

 

“Karaktaer Bas Kayu memang unik. Belum lengkap rasanya berwisata di Karimun kalau belum mencoba Bas Kayu ini. Sesuai namanya, angkutan ini dominan menggunakan kayu yang dikombinasikan dengan unsur logam,” terang Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati.

 

Kayu yang digunakan sebagai body bus berjenis sengi. Bagian yang sangat mencolok ornamen kayunya adalah list kaca depan. Bagian ini sangat nyentrik karena kaca dibagi dua bagian dan bisa dibuka tutup untuk mengalirkan udara. Pintu depannya juga dominan kayu. Menariknya, engsel pintunya biasa yang digunakan dalam rumah biasa.

 

Nuansa kayu semakin kental pada body samping. Jendelanya memakai kayu tanpa kaca. Pun demikian di sisi dalam body busnya. Namun, sisi luarnya tetap dilapisi logam sebagai penahan air hujan. “Dengan suasana laut yang dominan, penggunaan kayu untuk body bus sangat ideal. Sebab, bila memakai logam biasanya cepat korosi,” kata Dessy.

 

Meski berumur tua, perawatan mesin Bas Kayu relatif mudah. Sebab, mesin yang digunakan untuk Bas Kayu adalah Mitsubish PS dan Toyota Rhino. Kabid Pengembangan Pemasaran Area II Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Trindiana M Tikupasang menjelaskan, Bas Kayu ini semakin menambah daftar moda transportasi wisata di Karimun.

 

“Selain atraksinya, aksesibilitas bahkan amenitas di Karimun sangat bagus. Keberadaan Bas Kayu ikut menambah daftar pilihan moda transportasi bagi wisatawan. Namun, Karimun tetap mengembangkan moda transportasi yang lebih modern. Semua untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Silahkan pilih moda yang menarik selama di Karimun menikmati Festival Barongsai 2019,” jelas Trindiana.

 

Aksesibilitas pariwisata di area Karimun sangat bagus. Hampir semua wilayahnya terjangkau dengan transportasi umum. Startnya Pelabuhan Taman Bunga, lalu beberapa trayek terhubung dengan angkot. Rutenya dibedakan menurut warna, seperti angkot warna biru atau hijau bila menuju Balai Meral. Lalu, angkot kuning menuju Balai Kapling, lalu daerah Balai Tebing terhubung dengan angkot coklat.

 

“Setiap daerah memiliki daya tariknya. Salah satu keunikan Karimun dan Festival Barongsai 2019 ini ada pada moda transportasinya. Bas Kayu merupakan moda transportasi yang langka. Dan, Karimun tetap mempertahankannya. Untuk itu, silahkan datang ke Festival Barongsai 2019 dan nikmati beragam warna eksotis dari Karimun,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya. (*)

Bagikan artikel ini: