Profesi apa saja yang tak tergerus industri 4.0?

Selasa, 9 April 2019 | 10:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengatakan tidak semua lapangan pekerjaan hilang akibat masuknya revolusi industri 4.0. Menurut dia, akan ada saja pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan oleh manusia.

"Misalnya sektor jasa atau pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan manusia seperti tukang cukur, enggak mungkin kita mau dicukur sama robot," ujar dia, Senin (8/4/2019).

Di samping itu, ia yakin masih banyak pekerjaan manusia lain yang tidak bisa digantikan oleh robot. Meski demikian, Bambang mengatakan revolusi industri 4.0 mau tidak mau akan terjadi. Banyak hal yang akan mengarah ke pemanfaatan mesin.

Yang terpenting, ujar Bambang, pembinaan sumber daya manusia nantinya harus diarahkan agar menjadi kelompok yang tidak akan terhapus oleh industri 4.0. Di samping, mereka juga didorong mendalami ilmu kewirausahaan dan soft skill. "Hanya dengan itu mereka bisa survive," tukasnya.

Bambang optimistis dengan pendekatan industri 4.0 efisiensi industri akan membaik. Sehingga, ekonomi pun bisa bertumbuh cepat. Imbasnya, lapangan kerja baru juga bisa terbuka, meski di sektor lain. "Jadi memang kemampuan kita memanfaatkan bonus demografi tidak hanya sekadar angka pengangguran turun, tapi bagaimana kemampuan matching dengan kebutuhan pasar," kata dia.

Sebelumnya, laporan Nielsen Indonesia menyebutkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek pekerjaan mereka pada masa depan mengalami tekanan. Salah satu tekanan itu adalah kampanye industri 4.0.

Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin mengatakan, hal itu tercermin dari survei Nielsen mengenai optimisme terhadap prospek lapangan kerja lokal yang turun dari 73 persen pada kuartal III/2018 menjadi 68 persen pada kuartal IV/2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang (IBS) pada 2018 sebesar 4,07 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 2017 yang mencapai 4,74 persen.

“Saya khawatir, kalau manufaktur Indonesia kembali melambat tahun ini dan ketakutan publik akan ancaman industri 4.0. semakin meningkat, optimisme di lapangan pekerjaan akan kembali turun,” kata Agus. kbc10

Bagikan artikel ini: