Ini siasat pemerintah jadikan nelayan RI melek teknologi

Senin, 8 April 2019 | 19:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman merilis program satu juta nelayan berdaulat. Caranya, para nelayan harus lebih maju dengan dukungan teknologi.

Menko Bidang Kemaritiman Luhut B. Panjaitan mengatakan, program satu Juta Nelayan Berdaulat segera dilaksanakan di 300 kabupaten/kota wilayah pesisir Indonesia. Peserta ditargetkan berjumlah 300.000 nelayan hingga akhir tahun 2019

Masalah utama nelayan Indonesia adalah belum adanya dukungan teknologi untuk menemukan lokasi keberadaann ikan secara akurat dan murah. Ikan hasil tangkapan nelayan cepat membusuk dan harga jual ikan yang murah di kalangan tengkulak.

"Harapannya dengan program ini maka bisa meningkatkan tingkat pemanfaatan sumber daya laut dari tujuh persen menjadi minimal 17 persen, mengurangi angka kemiskinan nasional hingga 25 persen, dan meningkatkan dan kedaulatan maritim Indonmia dengan melibatkan nelayan sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan negara," ujar Luhut di Jakarta, Senin (8/4/2019).

Luhut mengatakan dengan melek teknologi, maka nelayan langsung bisa mengolah dan melakukan tata kelola perikanan sampai pada pengolahannya. Dengan kemampuan teknologi yang dimiliki nelayan, diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup.

"Sektor perikanan merupakan salah satu kontribusi pertumbuhan ekonomi tertinggi. Anda lihat semua perikanan itu luar biasa, tapi kita kurang menyentuh. Kita mau ini program jalan, jadi nelayan bisa lebih baik lagi," ujar Luhut.

Selain itu, Luhut berharap Indonesia dapat menjadi Negara Poros Maritim Dunia, seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI). Salah satu caranya dengan menggaet startup di bidang teknologi perikanan, seperti FishOn.

CEO FishOn Fajar Widisasono mengatakan perusahaannya menyediakan aplikasi yang bisa dimanfaatkan oleh nelayan untuk kegiatan mencari hingga memasarkan hasil tangkapannya. "Aplikasi ini ibarat Gojek untuk nelayan. Gojek untuk cari penumpang, aplikasi kami untuk mencari ikan," ujarnya.

Aplikasi FishOn ini berbasis android, dengan beberapa fitur yang memudahkan nelayan. Fitur itu di antaranya pencarian, pengawetan, dan penjualan ikan. Selain itu, tersedia fitur komunikasi lewat chatting, pencatatan hasil tangkapan ikan (logbook), pembayaran elektronik, belanja di koperasi nelayan, dan permintaan bantuan dalam kondisi darurat (panic button).

Dia menuturkan lahirnya FishOn karena ia melihat nelayan Indonesia menghadapi beberapa persoalan. Misalnya, belum adanya dukungan teknologi untuk menemukan keberadaan ikan secara akurat, real time, dan berbiaya murah. Selain itu, hasil tangkapan nelayan cepat membusuk dan harga jual ikan di kalangan tengkulak masih sangat murah.

Program satu juta nelayan ini didukung oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta Asosiasi Pemerintah Bidang Kepulauan dan Pesisir Indonesia (Aspeksindo). Rencananya, program ini bakal digelar di 300 kabupaten/kota wilayah pesisir Indonesia dengan target peserta hingga 300 ribu nelayan pada akhir 2019.

Ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) Abdul Gafur Mas'ud mengatakan saat ini ada 2,7 juta nelayan tercatat di Indonesia. Sayangnya, para nelayan ini masih hidup berada di ambang batas kemiskinan.Karena itu, diperlukan perbaikan dan dukungan dari pemerintah."Masuknya teknologi perlu didorong penngkatan kesejahteraan mereka," ujar Gafur di lokasi yang sama.

Apalagi, potensi kekayaan laut Indonesia merujuk data United Nations Development Prograns (UNDP) pada 2017 dapat mencapai US$ 2,5 triliun per tahun. Sayangnya, baru termanfaatkan sebesar tujuh persen saja. Ia berharap dengan adanya kesadaran teknologi maka nelayan bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar dari hasil laut.kbc11

Bagikan artikel ini: