PLN perluas program 'Electrizen Cooking Competition' ke sektor pariwisata dan UMKM

Selasa, 2 April 2019 | 19:18 WIB ET
Electrizen Cooking Competition yang berlangsung di Kelurahan Bekasi Jaya, Mekarjaya, Bekasi Timur pada Selasa (2/4/2019).
Electrizen Cooking Competition yang berlangsung di Kelurahan Bekasi Jaya, Mekarjaya, Bekasi Timur pada Selasa (2/4/2019).

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT PLN (Persero) terus berupaya untuk memperluas efektivitas penggunaan kompor listrik – induksi. Langkah BUMN kelistrikan ini bukan hanya mengalihkan penggunaan sumber-sumber energi yang selama ini disubsidi melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ke sektor-sektor lainnya seperti pendidikan dan kesehatan, melainkan secara terpadu, menjadikan  Indonesia Biru melalui penggunaan energi listrik yang ramah lingkungan.

Salah satunya melalui program Electrizen Cooking Competition yang berlangsung di Kelurahan Bekasi Jaya, Mekarjaya, Bekasi Timur pada Selasa (2/4/2019).

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT  PLN (Persero) I Made Suprateka menyatakan, program tersebut tidak hanya menjelaskan efisiensi dan target peningkatan produktifitas, dari penghematan penggunaan energi saja, melainkan ke depannya program ini bertujuan lebih luas.

“Pertama, program edukasi yang dilakukan melalui kerjasama dengan ibu-ibu penggerak PKK di sejumlah wilayah DKI Jakarta, Bekasi - Jawa Barat, sampai ke Bogor, Jawa Barat dan berjalan secara simultan dari pekan kelima bulan Maret 2019, sampai di akhir April 2019, bertujuan meningkatkan produktivitas rumah tangga perorangan dan juga bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kuliner," ulasnya melalui keterangan tertulis, Selasa (2/4/2019).

Menurunya, pihaknya ingin menyebarkan kebiasaan, sekaligus mengedukasi masyarakat rumah tangga, khususnya rumah tangga yang kerap menggunaakan aktifitas masak-memasak di rumah. Di luar rumah tangga perorangan, pihaknya menyasar juga pengusaha UMKM  yang bergerak di bidang kuliner.

Made bilang, sambil menekankan kepada para pengguna kompor listrik induksi, bahwa menggunakan kompor listrik akan lebih aman, karena terhindar dari bahaya kebakaran seperti pada penggunaan kompor gas, tetapi juga penggunaan kompor listrik lebih mudah, karena energi listriknya sudah disediakan oleh PLN. 

"Aman di sini dalam makna secara lebih luas, adalah dari segi energi buang, maka menggunakan energi listrik dalam memasak, sekaligus juga berarti aman, dalam arti, praktis tidak ada gas buang (reduksi) yang akan mengakibatkan polusi," tukasnya.

Selain mudah, produktivitas bagi pengusaha UMKM diharapkan dapat lebih meningkat. “Mengapa demikian, karena dengan suhu panas yang merata secara stabil, proses waktu (lamanya memasak) menjadi lebih singkat. Di sini menggunakan kompor listrik induksi akan lebih efisien. Para pengguna kompor listrik induksi tinggal mencolokkan kabel listrik pada seteker di rumah. Dengan demikian para pengguna kompor listrik induksi tidak perlu menghabiskan waktu memperoleh energi tersebut, karena sudah dihantarkan oleh PLN, dengan harga yang lebih bersaing," ulas Made.

Dari segi mencegah potensi terjadinya kebakaran, disampaikan juga bagaimana mengelola penggunaan listrik secara bijaksana, artinya bijaksana dengan instalasi yang ada di dalam rumah. Pihaknya juga menyampaikan agar anggota rumah tangga perorangan, tidak menggunakan kabel secara sembarangan.

"Melalui koordinasi dengan pihak kontraktor yang sudah menjadi mitra kerja PLN, diharapkan tidak menggunakan kabel dan instalasi secara sembarangan. Itu sebabnya untuk rumah-rumah baru saat memasang instalasi listrik baru, harus memiliki Sertifikat Laik Operasi (SLO), yang menunjukkan instalasi pemasangan listriknya dijamin oleh para konsultan SLO penerbit Lembaga Instansi Teknik (LIT) yang ditunjuk pemerintah, melakukan inspeksi kelaikan operasi atas instalasi listrik yang dipasang pada bangunan pemohon listrik,” jelas Made.

Made yang menangani bidang CSR di PLN ini menjelaskan lebih lanjut, harapannya, Program Electrizen Cooking Competition ini akan mengarah pada agenda-agenda bidang terkait di seluruh Indonesia. “Prioritas kami terutama, adalah daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata kuliner. Dengan program tujuan destinasi pariwisata di Indonesia, maka sektor pariwisata Indonesia, kini tidak lagi hanya dibangun dengan situs dan pemandangan yang indah, tetapi juga dibangun melalui kebanggaan dan ciri khas  kuliner setempat," bebernya.

Made berharap ada sinergi dari sejumlah potensi pariwisata setempat, dapat menjadi bagian terintegrasi, melalui sosialisasi penggunaan kompor listrik induksi. Ke depan, pihaknya tidak hanya melakukan demo pada kesempatan eletrizen cooking competition saja, melainkan juga menggunakan CSR bersama dengan pemda setempat, untuk menjadikannya sebagai mata rantai yang bisa menghidupkan potensi pariwisata setempat. 

"Seperti yang kami lakukan secara simultan melalui kegiatan bersih-bersih sungai, akhirnya bisa menjadi kegiatan yang dilakukan juga oleh masyarakat setempat. Selain itu ada juga kegiatan bersih-bersih pantai, sambil melakukan kegiatan penanaman mangrove di sekitar pantai yang mengalami abrasi. Contohnya seperti yang kami lakukan di daerah Banten, Serang, dekat PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Lontar, juga dilakukan CSR berupa penanaman mangrove di sekitar pantai. Sekarang daerah tersebut sudah menjadi obyek pariwisata," ujarnya.

Itu sebabnya dia berharap masyarakat juga dapat mengembangkan mangrove dengan ciri khas sendiri, namun bisa paralel dengannya, termasuk edukasi menggunakan kompor listrik induksi. "Semoga nanti ke depannya, program seperti ini bisa berlangsung secara kontinu,” jelas Made. 

Harga terjangkau

Salah satu peserta dalam Program Electrizen Cooking Competition, Siti Nasuha selaku Wakil IV (Pokja IV) PKK RW 04  Tebet Barat – Jakarta Selatan, mengemukakan, sebetulnya tidak asing dengan penggunaan kompor listrik induksi, karena saudaranya sudah terlebih dahulu memilikinya. Dalam hal penggunaan waktu memasak, apabila menggunakan kompor listrik induksi, sudah terbukti lebih cepat, sehingga waktunya lebih efisien. 

“Saat memasak hiasan untuk nasi tumpeng yang dipersyaratkan dalam cooking competition, Bu Aan yang menggoreng tempe orek, mengatakan lebih mudah menggunakan kompor listrik induksi, dibanding hari-hari biasa di rumah dirinya menggunakan kompor gas," ujarnya.

Lewat pertemuan rutin kegiatan PKK yang biasa disebut Rapat Koordinasi (Rakor) dengan ibu Lurah dan ibu Camat, dia bilang, pihaknya bersedia menyosialisasikan penggunaan kompor listrik – induksi. Mewakili suara terbanyak yang kerap ditanyakan, adalah bagaimana kalau tiba-tiba saat memasak, terjadi listrik padam, bagaimana solusinya. Walaupun menurutnya, daerah tempat tinggalnya jarang terjadi pemadaman listrik, kecuali untuk alasan pemeliharaan jaringan. 

Secara umum, para peserta cooking competition menyatakan, harga jual kompor listrik induksi yang kisarannya berada di antara Rp 350.000-Rp 400.000 masih terjangkau harganya. Concern ibu-ibu PKK ini, terutama saat awal menyalakan kompor listriknya, seperti juga halnya peralatan listrik lain sejenisnya, tarikan pertama daya listriknya bervariasi antara 1.00 Volt Ampere (VA), 200 VA sampai 2.000 VA.  Perbedaan tersebut bergantung pada setiap produsen kompor listrik induksi. 

Mereka pun berharap ke depan harga kompor listrik induksi ini akan semakin murah. Untuk itu, imbuh Made, harus ada kontribusi dari pihak lain, supaya program ini berjalan semakin masif, sehingga akan menghasilkan daya saing produk Indonesia. Atau sebaliknya kondisi ini menjadikan kekuatan daya saing untuk mencegah masuknya produk impor. Dengan demikian terjadi penguatan ekonomi, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat itu sendiri, akan tetapi dirasakan sebagai efek berganda dari penghematan APBN. kbc7

Bagikan artikel ini: