Produksi batubara diperkirakan turun di tahun ini

Senin, 1 April 2019 | 06:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Morgan Stanley memprediksi produksi batubara pada 2019 akan turun. Alasannya, impor batubara China akan lebih rendah. Kebijakan impor China diperkirakan akan terus disesuaikan berdasarkan output dan harga batubara. Di mana diperkirakan turun 17 juta ton menjadi 200 juta ton sepanjang tahun ini.

Selain itu pertumbuhan impor India melambat tahun ini seiring kenaikan produksi dalam negeri. Di sisi lain, ekspor Indonesia turun 19 juta ton.

Pada November 2018 lalu, bea cukai China menyatakan bahwa kuota impor batubara tahun 2018 tidak akan melebihi tahun 2017 yaitu sebanyak 270,9 juta ton.

Sentimen negatif  ini juga diperkuat dengan ekspektasi perlambatan ekonomi China ke level  6%-6,2% pada akhir tahun ini. Pemerintah China pun mengurangi waktu kegiatan penambangan dari 330 hari menjadi 276 hari. 

Analis MNC Sekuritas, Krestanti Nugrahane Widhi perkirakan secara keseluruhan outlook sektor batubara global cenderung bergerak stabil pada tahun ini seiring dengan pelemahan perekonomian global. “Perlambatan perekonomian global akan berdampak pada penurunan harga batubara dan secara tidak langsung akan mempengaruhi kinerja emiten batubara,” kata Krestanti akhir pekan lalu.

Analis NH Korindo, Firman Hidayat mengatakan, pertumbuhan industri batubara tidak bisa sebagus tahun lalu. Sejalan, ia menilai tahun ini industri batubara akan terhambat dengan kebijakan China yang membatasi impor batubara. “Terlepas dari peraturan tersebut, kami optimistis tentang permintaan dan pasokan batubara yang seimbang,” tutur Firman.

Ia menambahkan secara fundamental, industri batubara masih membukukan pendapatan tinggi, meskipun hasil sahamnya kemungkinan akan sedikit menurun. Penilaian industri ini sangat menarik, sehingga setiap penurunan stok batubara terjadi berarti akumulasi langsung akan menguntungkan.

Ketidakpastian ekonomi global merupakan kemunduran untuk industri batubara. Pertama, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang masih berlangsung sampai dengan saat ini. Meskipun demikian perang dagang tidak seburuk tahun lalu, sebab tahun ini perang dagang diagendakan akan menemukan titik temu.  

Kedua, energi terbarukan, mengurangi sumber energi berbasis fosil untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ketiga, ancaman perlambatan harga minyak mentah global. Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Non-OPEC telan menjalankan pemangkasan produksi sebanyak 1,2 juta barel per hari. Tetapi, AS sebagai salah satu pemilik cadangan minyak terbesar di dunia merasa harga minyak dunia sekarang sudah terlalu mahal. kbc10

Bagikan artikel ini: