PT PAL teken kontrak pengadaan kapal KCR 5 dan 6 milik TNI AL senilai Rp1,66 triliun

Senin, 25 Februari 2019 | 21:51 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: TNI Angkatan Laut kembali memesan Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR 60M) 5 dan 6 kepada PT PAL INDONESIA (Persero) senilai Rp 1,66 triliun.

Penandatanganan kontrak pengadaan dua unit kapal KCR yang meliputi Platform dan Sensor Weapon Control (Sewaco) untuk KCR-60 meter kapal ke 5 dan 6 ini dilakukan oleh PT PAL Indonesia dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia pada Senin (25/2/2019).

Selain dua unit kapal KCR 5 dan 6, TNI AL juga memesan dua unit Sewaco untuk KCR-60 meter kapal ke-3 (KRI Halasan - 630) yang sudah beroperasi dan KCR-60 kapal ke-4 (KRI Kerambit 627) yang telah selesai pembangunan. Hal  ini didasarkan pada kontrak yang telah ditandatangani pada 28 Desember 2018 lalu di Jakarta.

Laksamana Muda TNI Agus Setiadji mengatakan bahwa pemesanan dua unit KCR yang baru ini memang berbeda dengan yang sebelumnya. Jika KCR 1,2 dan 3 hanya memesan platform saja sementara persenjataannya baru dilakukan setelah pembangunan kapal selesai, maka untuk kedua unit KCR 5 dan 6 ini dipesan secara utuh, platform beserta Sewaco atau persenjataannya. Sehingga nilai investasinya juga relatif lebih mahal, yaitu sekitar Rp 1,66 triliun.

“Kami akan lanjut terus karena banyak kapal yang sudah lama. Dan kapal itu memiliki batas waktu. Umur kapal rata-rata 20 tahun hingga 30 tahun. Jika lebih dari 30 tahun, maka biaya pemeliharaannya akan lebih mahal dibanding membuat baru,” tegas Agus Setiadji usai penandatanganan kontrak di kantor PT PAL Indonesia.

Dengan dibangunnya kapal KCR 5 dan 6 secara lengkap, maka ia berharap akan menjadi acuan bahwa PAL juga bisa membuat kapal KCR secara utuh, beserta persenjataannya. Apalagi harganya jauh lebih murah jika dibandingkan membeli kapal dengan jenis yang sama di Eropa dan Korea.

 

Ia berharap, pembangunannya tepat waktu dan sesuai kontrak yaitu sekitar 24 bulan. Lamanya tenggat waktu yang ditentukan karena pembuatan beberapa komponen inti juga butuh waktu sangat lama, bisa sampai 12 bulan hingga 14 bulan. “Harapan kami kapal bisa selesai tepat waktu, tepat mutu serta sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan,” tegasnya.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Budiman Saleh mengatakan bahwa pemenuhan KCR ini merupakan bagian dari peran PT PAL INDONESIA (Persero) sebagai Lead Integrator Matra Laut untuk Kapal Kombatan sesuai dengan Amanah Undang-Undang. Sejalan pemenuhan Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) Kementerian Pertahanan pada Tahun Anggaran 2015-2019 dengan tingkat kandungan lokal sebesar 19,56 persen.

“Bahkan untuk dua unit kapal KCR ini kandungan lokalnya jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Jika sebelumnya masih sekitar 19,56 persen, maka ini mencapai 33 persen. Untuk itu kami juga melakukan kerjasama dengan banyak BUMN dan BUMS dalam negeri,” terangnya.

Ada sekitar empat BUMN yang digandeng, diantaranya PT Line untuk pengadaan senjata, PT Pindad untuk komponen penarik jangkar, dan PT Barata Indonesia untuk komponen tambatan kapal. Sementara jumlah perusahaan swasta lokal yang ikut berkontribusi dalam pembangunan  kapal ini sangat banyak, mencapai 64 unit hingga 94 perusahaan.

“Pembangunan KCR 5 & 6 juga melibatkan tiga supplier persenjataan kelas dunia, yaitu Bofors-Swedia, MBDA Perancis, Terma-Denmark yang sesuai dengan opsreq TNI AL,” tegasnya.

Kapal Cepat Rudal 60 meter ini merupakan hasil inovasi yang dikembangkan dari produk sebelumnya yaitu Kapal Patroli Cepat 57 Meter. Desain pembangunan KCR 60 meter ini terus disempurnakan mereferensi dari masukan dan arahan Satuan Tugas (Satgas) serta pengguna produk. Pengadaan Kapal Kombatan ini dalam rangka pemenuhan MEF sebagai tindak lanjut implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012.

“Dengan ditandatanganinya Kontrak Pembangunan dan pemasangan Sistem Senjata KCR 60 meter dapat mendukung kemajuan industri pertahanan dalam negeri dan merupakan komitmen PT PAL Indonesia (Persero) guna memenuhi kebutuhan tugas pokok dan fungsi TNI khususnya Matra Laut. Insan PAL Indonesia secara berkelanjutan terus berinovasi untuk menguasai teknologi industri maritim sehingga menghasilkan produk yang tepat mutu, tepat guna dan tepat kualitas,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: