Pasar saham Indonesia diramal paling menarik di dunia

Senin, 28 Januari 2019 | 08:39 WIB ET

HONG KONG, kabarbisnis.com: Pasar saham negara-negara berkembang (emerging markets) diprediksi akan mengalami titik balik pada tahun 2019 ini. Hal ini sejalan dengan tertahannya pengetatan suku bunga di seluruh dunia dan membaiknya sentimen.

Dikutip dari South China Morning Post, Minggu (27/1/2019), manajer portfolio di BlackRock Gordon Fraser menyatakan, valuasi saham di negara-negara berkembang cukup menarik saat ini. Fraser menuturkan, ini khususnya bila dibandingkan dengan negara-negara maju.

"Kondisi likuiditas membaik. Dalam pandangan kami, likuiditas lebih mendorong harga aset dibandingkan aktivitas ekonomi, khususnya di negara-negara berkembang," kata Fraser.

Ia menuturkan, banyak tantangan utama yang melanda negara-negara berkembang pada tahun 2018 lalu telah surut. Oleh karena itu, menurut dia, kondisi suku bunga global kini menguntungkan bagi negara-negara tersebut.

Fraser pun meyakini bank-bank sentral akan lebih suportif terhadap ekonomi negara-negara berkembang pada tahun ini. Ia juga memandang bank-bank sentral tak perlu kembali menaikkan suku bunga acuan, bahkan beberapa di antaranya melonggarkan.

Banyak bank sentral negara berkembang menaikkan suku bunga acuan pada tahun lalu, sejalan dengan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Adapun Fraser memandang, pasar saham Indonesia adalah salah satu pilihannya, lantaran perbaikan ekonomi negara terbesar di Asia Tenggara ini.

"Kami melihat valuasi yang menarik dan kami pikir Indonesia akan diuntungkan dengan perubahan kondisi suku bunga secara global. Indonesia adalah salah satu negaea berkembang yang paling sensitif terhadap suku bunga AS," ujar Fraser.

BlackRock adalah manajer aset terbesar di dunia. Hingga akhir tahun 2018 lalu, dana kelolaan BlackRock mencapai 5,98 triliun dollar AS. kbc10

Bagikan artikel ini: