Kelola berita berbasis langganan, Facebook siapkan dana Rp4,2 triliun

Kamis, 17 Januari 2019 | 18:13 WIB ET

NEW YORK, kabarbisnis.com: Facebook hari ini mengumumkan akan menginvestasikan USD300 Juta (Rp4,2 trilun lebih) dalam berbagai proyek terkait jurnalistik, terutama dalam mempromosikan berita lokal yang menghadapi krisis karena kemajuan teknologi.

"Dalam tiga tahun, kami akan menginvestasikan USD 300 juta dalam program berita, mitra bisnis, dan konten," kata Campbell Brown, yang mengelola sebuah konter berita global.

Facebook berencana membuat fitur untuk produk berita berbasis langganan. Layanan tersebut meliputi pemasangan paywall yang akan memotong non-subscriber setelah pengguna mengakses 10 artikel. Oleh karenanya Facebook saat ini sedang mencari kandidat kantor berita untuk dijadikan mitranya.

Seperti dilansir dari Reuters, Facebook Inc (FB.O) sedang dalam pembicaraan awal dengan beberapa penerbit berita untuk kerja sama dengan situs media sosialnya dengan model bisnis langganan yang lebih baik, hal tersebut diungkapkan Campbell Brown, dalam sebuah pernyataan pada Rabu (16/1/2019).

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah TheStreet melaporkan bahwa Facebook berencana untuk meluncurkan produk berita berbasis berlangganan.

"Salah satu hal yang kami dengar di pertemuan awal kami dari banyak surat kabar dan penerbit digital adalah, ‘Kami menginginkan produk berlangganan - kami ingin dapat melihat papan iklan di Facebook.' Dan itu adalah sesuatu yang kita lakukan sekarang. Kami meluncurkan produk berlangganan," kata Brown

Seiring semakin banyaknya pembaca berita online, surat kabar telah mengalami penurunan jumlah pelanggan dan pendapatan iklan yang rendah. Hal ini mengakibatkan kontraksi industri yang dramatis. Penerbit surat kabar dan Associated Press telah lama menyalahkan Google dan situs agregasi berita lainnya karena kesengsaraan mereka.

Facebook berencana mulai menguji pendekatan meteran pada Oktober, mungkin akan dibangun di atas fitur trending topic. Gagasan tentang paywall telah berjalan beberapa saat dan ditujukan untuk menenangkan organisasi berita yang mengeluh memiliki sedikit kontrol atas artikel mereka di Facebook.

Misi Facebook ini tak jauh berbeda dengan pendekatan yang banyak dilakukan surat kabar Amerika Serikat (AS) terkait konten digital. Surat kabar seperti The New York Times, Washington Post, dan Los Angeles Time juga telah menetapkan rencana pembayaran yang terukur di mana pembaca memiliki akses ke sejumlah artikel gratis sebelum diundang untuk berlangganan. kbc10

Bagikan artikel ini: