Tarif pengiriman barang serentak naik bulan ini

Kamis, 17 Januari 2019 | 07:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan perusahaan penyedia jasa pengiriman barang sepakat menaikkan tarif pengiriman di awal 2019 ini. Alasannya karena tarif Surat Muatan Udara (SMU) maskapai penerbangan mengalami kenaikan.

"200 Lebih perusahaan, mereka sepakat menaikkan tarif," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo), Mohamad Feriadi, Rabu (16/1/2019).

Feriadi menyebutkan, hingga kini terdapat 200 lebih perusahaan penyedia jasa pengiriman barang menjadi anggota Asperindo. Semuanya telah menyetujui dan menyapakati keputusan itu dalam sebuah rapat pada 2018.

"Kami membuat beberapa rekomendasi salah satunya adalah mendorong semua perusahaan anggota Asperindo untuk melakukan penyesuaian. Karena, apabila tidak melakukan penyesuaian saat kondisi seperti ini akan berat sendiri menanggung biaya begitu tinggi," tuturnya.

Dia menerangkan, kenaikan tarif itu selambat-lambatnya dilakukan perusahaan pada awal 2019 dan menentukan sendiri besaran atau persentase kenaikan tarif dari tahun sebelumnya. Karena Asperindo tidak mamatok berapa angka kenaikan tarifnya.

"Tidak ada (disepakati). Dikembalikan lagi masing-masing kepada perusahaan anggota asosiasi. Karena cost-nya pasti berbeda-beda tiap perusahaan," paparnya.

Meskipun kenaikan tarif paling lambat dilakukan di awal 2019, Feriadi menyebutkan sudah ada sejumlah perusahaan yang menyesuaikan kenaikan tarif di tahun lalu. Sebelum kebijakan tarif baru ini disorot dan mendapat perhatian publik secara luas.

"Jadi sampai akhir tahun lalu sudah ada beberapa perusahaan sudah melakukan penyesuaian. Kita memberikan arahan paling lambat Januari tahun ini, mereka sudah harus melakukan penyesuaian, selambat-lanmbatnya Januari. Januari sudah clear lah," sambungnya.

Asperindo pun menyakini kenaikan tarif ini tidak akan menimbulkan masalah dan keluhan dari masyarakat atau konsumen. Sebeb, kenaikan tarif ini akan didukung dengan pelayanan yang lebih biak dan maksimal. Sehingga memberikan kepuasana kepada konsumen.

"Nggak. Saya yakin bisnis yang paling penting adalah bagaimana kita membangun costumer experience. Jadi harga mungkin iya (dipermasalahkan), tapi masyarakat juga konsen soal kualitas layanan," ucapnya.

"Jadi yang diadu sebetulnya buka mahal atau murahnya, tapi seberapa baik layanan. Seberapa baik costumer experience yang sedang dibangun oleh masing-masing penyedia jasa," tambah Feriadi. kbc10

Bagikan artikel ini: