Revitalisasi pasar tradisional, walikota Mojokerto jadikan Jepang dan Turki referensi

Minggu, 13 Januari 2019 | 08:21 WIB ET

MOJOKERTO — Wali Kota Mojokerto Ita Puspitasari tak ingin lagi melihat pasar tradisional yang kumuh, tak terawat, dan berantakan. Citra yang selama ini melekat di pasar tradisional itu harus segera dihapus dengan program revitalisasi pasar tradisional. 

Dalam kunjungannya sejumlah pasar tradisional di Kota Mojokerto, Jumat (11/1), Ning Ita mengatakan bahwa pasar tradisional tak bisa dianggap remeh. “Pasar tradisional adalah sangat vital perannya dalam perekenomian rakyat. Karena itu, bangunan pasar yang representatif wajib hukumnya,” kata Ning Ita.

Beberapa pasar tradisional yang dikunjungi Ning Ita antara lain Pasar Tanjung Anyar, Pasar Empunala, dan Pasar Prajurit Kulon. Di pasar-pasar tersebut, Ning Ita yang juga aktivis Muslimat Nahdlatul Ulama itu mengatakan bahwa revitalisasi pasar tradisional harus memiliki visi jauh ke depan. Bukan hanya perbaikan rutin yang harus menelan biaya perawatan setiap tahun karena kualitas yang buruk. 

“Prinsip saya dalam membangun adalah sekalian yang bagus. Karena ini fasilitas untuk masyarakat. Kalau kegunaannya untuk jangka panjang, maka  ini harus benar-benar kita bangun sebaik mungkin dengan kualitas yang terbaik,” tegas Ning Ita.

Pasar tradisional, kata Ning Ita, tak hanya bisa bersih dan teratur. Tapi bahkan bisa jadi spot wisata yang unik. Seperti pasar-pasar tradisional di negara-negara maju yang justru jadi lokasi jalan-jalan wisatawan. Mulai dari Tsujiji Fish Market di Tokyo, Jepang; Grand Bazaar, Istanbul, Turki; The Marrakech Souks, Maroko; dan Chatuchak Market, Bangkok, Thailand. 

“Pasar-pasar tradisional tersebut bisa kita adopsi konsepnya untuk kemudian kita sesuaikan dengan nilai-nilai budaya di Kota Mojokerto. Seperti pasar di Kabupaten Banyuwangi yang bersih dan dibangun dengan ukiran kayu bernuansa Blambangan,” kata Ning Ita yang sidak bersama tim Kementerian Perdagangan ditemani Wakil Wali Kota Achmad Rizal Zakaria, Kepala Disperindag Ruby Hartoyo, dan Kepala BPPKA Agung Moeljono. 

Ning Ita mengatakan, proses revitalisasi pasar harus segera dilakukan. Sebab, para pedagang sudah banyak yang mengeluhkan kondisi tersebut. Seperti yang dikatakan Suwaji, pedagang pracangan yang sudah 18 tahun menempati Pasar Prajurit Kulon. “Gentengnya banyak yang bocor Bu, jalannya sudah rusak. Kalau kondisinya seperti ini pembeli tidak nyaman, pasar akan terus sepi,” kata Suwaji.

“Pembangunan pasar tradisional bukan semata proyek fisik. Tapi ia harus membawa nilai sekaligus linier dengan program pembangunan Kota Mojokerto ke depan. Salah satunya adalah menggenjot kunjungan wisata. Karena itu, bangunan pasar baru nanti harus mengemban misi-misi tersebut,” katanya.

Bagikan artikel ini: