Survei BI sebut inflasi Desember melejit, ini penyebabnya

Minggu, 30 Desember 2018 | 09:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Hasil Survei Bank Indonesia (BI) hingga pekan keempat Desember 2018 menunjukkan tingkat kenaikan harga konsumen mengalami inflasi sebesar 0,56 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi berada di kisaran 3,07 persen. 

Hasil survei ini menunjukkan tingkat inflasi Indonesia bakal meningkat cukup signifikan dari bulan sebelumnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi November 2018 sebesar 0,27 persen secara bulanan. Meski, menurun dari 3,23 persen secara tahunan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan inflasi terjadi karena harga sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat meningkat. Peningkatan tersebut terjadi akibat pengeluaran  musiman jelang akhir tahun yang cenderung naik.

"Ada kenaikan harga, seperti tarif angkutan udara, telur ayam, dan daging ayam," ucap Perry di Kompleks Gedung BI, Jumat (28/12/2018).

Sementara beberapa kelompok pengeluaran lainnya masih terpantau cukup stabil. Kondisi tersebut diharapkan tidak menambah tekanan ke inflasi. Bersamaan dengan itu, Perry masih yakin laju inflasi Indonesia sepanjang tahun ini akan berada di rentang yang dibidik bank sentral nasional sebesar 2,5-4,5 persen.

Pada bulan sebelumnya, sumbangan inflasi dari tarif pesawat memang sudah terasa. Tercatat, andil kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mencapai 0,1 persen dengan inflasi 0,56 persen. 

Lalu, sumbangan inflasi juga datang dari kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,06 persen dan inflasi sebesar 0,24 persen. 

"Inflasi kelompok perumahan disumbang oleh upah tukang bukan mandor, peningkatan beberapa bahan bangunan, seperti besi beton dan cat tembok, serta kenaikan sewa kos," terang Kepala BPS Suhariyanto beberapa waktu itu. 

Begitu pula sumbangan dari kenaikan harga telur sudah terasa sejak bulan lalu bersama bawang merah, beras, dan tomat sayur. kbc10

Bagikan artikel ini: