Optimalisasi lahan rawa berpotensi tambah produksi beras 2 juta ton

Sabtu, 15 Desember 2018 | 10:24 WIB ET

BOGOR, kabarbisnis.com: Produksi beras nasional berpotensi bertambah hingga 1,5 juta - 2 juta ton dari kegiatan penanaman lahan rawa pasang surut (mineral) sebesar 550.000 hektare (ha) dimulai tahun 2019.

"Produktivitas padi di lahan rawa yang yang tadinya sebesar 2 ton per hektare (ha) menjadi 6 ton per hektare melalui sentuhan teknologi.Potensi produksi yang didapat sebesar 3,3 juta ton gabah kering panen atau setara 2 juta ton beras," ujar Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian Badan Litbang Pertanian (BBSDLP Balitbangtan) Dedi Nursyamsi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (14/12/2018).

Dedi mengatakan penanaman lahan rawa secara massif yang bernama Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) ini terbagi dua program pertama optimalisasi lahan rawa sebesar 500.000 ha . Kedua, yakni melalui pencetakan lahan baru sebesar 50.0000 ton.

Program ini menjadi inisiasi pemerintah yang lebih luas dari demplot Jejangkit yang dilaksanakan di enam provinsi yakni Sumsel, Kalsel,Jambi,Lampung, Sulsel dan Kalteng. Menurut Dedi program SERASI akan dijalankan korporasi.Dalam pengelolaan tanahnya akan dikerjakan dengan full mekanisasi (alsintan).

Berkaca lahan pasang surut Desa Jejangkit Muara seluas 240 ha.Melalui program SERASI merupakan inisiasi Kementan berupa inovasi teknologi pertanian yang digelar pada Hari Pangan Sedunia (HPS) bulan Oktober lalu.

Lahan rawa Jejangkit yang 18 tahun ditinggalkan berhasil dibudidayakan kali menjadi lahan produktif dengan mengintegrasikan lahan sawah dengan ikan dan itik. "Dengan normalisasi  saluran airnya seperti memperbaiki pintu.Bereskan tanggulnya juga lahannya dikelola dengan haik," terangnya.

Menurut Dedi kunci keberhasilan optimalisasi lahan rawa adalah adanya air yang bergerak satu arah.Berbeda dengan lahan sawah biasa, pengairan lahan rawa harus memiliki dua fungsi, yakni sebagai saluran pengairan desa dan sebagai drainase untuk mengeluarkan racun.

Ditambahkan sifat lahan rawa adalah  tingginya kemasaman lahan yang bisa meracuni tanaman. "Jika lahan tidak teroksidasi karena tidak ada aliran air, akan menghasilkan asam sulfat dan mengganggu produktivitas tanaman," katanya.

Namun ada keistimewaan lahan rawa yakni sebagai daerah endapan yang menyebabkan sumber air di dalam tanah melimpah.Hal ini  menyebabkan lahan rawa kaya kandungan hara .

Ketika musim kemarau, sumber air turun , sumber permukaan tanah yang dapat ditanam semakin luas."Berkaca El Nino kuat 2015 banyak lahan pertanian sepanjang pantura mengalami puso tapi di lahan rawa justru panen raya"paparnya.

Selain manajemen irigasi, optimalisasi lahan rawa perlu dibarengi dengan penggunaan varietas benih unggul yang tahan genangan.Balitbangtan sudah merilis varietas benig padi inpara yang terbukti tahan masam dan keracunan besi.

Pihaknya akan memperluas penggunaan varietas beniglh padi Inpara untuk penanaman padi di lahan rawa.Menurutnya sebagian besar petani rawa masih menanam varietas lokal dengan waktu tanam tujuh-sembilan bulan.

Namun dengan varietas benih Inpari, indeks Pertanaman dapat meningkat dari 100 menjadi 200.Artinya,petani dapat menanam dalam satu tahun dua kali dengan produktivitas hingga 7- 9 ton GKP.

Dedi menguraikan Indonesia memiliki lahan rawa sekitar 34,1 juta ha, sekitar 19,2 juta  ha cocok dikembangkan sebagai lahan pertanian . Dari luas sebesar itu terdapat lahan yang cepat dapat dimanfaatkan yakni sebesar 7,5 juta ha.

"Saat ini baru 3,68  juta ha yang baru dikelola sebagai lahan pertanian atau 15 persen.Selebihnya , 85 persen justru belum dimanfaatkan " terangnya.kbc11

Bagikan artikel ini: