Hati-hati! Black Friday jadi incaran aksi penipuan via WhatsApp

Senin, 26 November 2018 | 10:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pakar keamanan siber telah memperingatkan para pembeli dalam perayaan belanja Black Friday untuk waspada saat memburu penawaran dan diskon online, setelah pesan penipuan beredar di WhatsApp.

"Black Friday adalah ladang ranjau bagi pembeli dan menyajikan peluang besar bagi para penjahat siber untuk mengambil keuntungan dari mereka yang tidak sadar," ujar kepala ilmuwan dari perusahaan keamanan daring McAfee Raj Samani, dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui email kepada The Independent, akhir pekan lalu.

Penipu menggunakan aplikasi perpesanan populer itu menyebarkan tautan palsu melalui voucher untuk supermarket dan pengecer lain. Beberapa pesan mendorong pengguna untuk membagikan tautan kepada 10 orang atau lebih untuk menerima tawaran tersebut.

Namun, pesan tersebut tidak nyata dan pesan hanya ditujukan untuk memastikan tautan dibagikan ke mana-mana, lalu menipu orang agar mengkliknya, mengekspos orang ke malware dan serangan lainnya.

"Konsumen harus ingat bahwa jika iklan untuk transaksi terlihat terlalu bagus, pikirkan sebelum Anda mengeklik tautan ke diskon," tambah Samani. "Hal yang sama berlaku untuk email dan pesan yang Anda terima melalui platform seperti Facebook dan Twitter. Jika ada diskon besar di kotak masuk Anda, Anda sebaiknya keluar langsung dari situs daripada mengklik tautan itu".

McAfee mengungkapkan ancaman malware untuk konsumen dua kali lipat pada tahun 2017 selama periode belanja Black Friday dan Cyber Monday, sementara risiko ransomware meningkat lebih dari sepertiga.

Firma intelijen ancaman RiskIQ telah menemukan merek pengecer terkemuka yang digunakan dalam tautan jahat, untuk mengelabui orang agar membagikan kredensial login atau rincian kartu kredit mereka dengan penjahat siber.

"Dengan banyaknya orang yang berpartisipasi dalam kegilaan belanja November tahun ini, penyerang akan memanfaatkan dengan menggunakan merek e-tailers terkemuka," tertulis dalam laporan tersebut. "Tujuannya untuk mengeksploitasi pengguna yang mencari penawaran dengan membuat aplikasi seluler palsu, dan halaman landing untuk menipu konsumen, kemudian mengunduh malware."

Ahli keamanan siber  RSA mengatakan bahwa penipuan online adalah umum pada dan sekitar Black Friday, dan mendesak pengguna untuk berhati-hati terhadap pesan scam dan email. “Periksa setiap URL yang disematkan sebelum mengklik - apakah tautan benar-benar membawa Anda ke sana?” ujar RSA, sebagaimana dikutip Metro.

Lembaga penegak hukum di Inggris telah memperingatkan tentang risiko yang dihadapi pembeli pada tahun ini. "Jangan klik tautan atau unduhan dalam email dari orang yang tidak Anda kenal," kata Polisi Essex. "Penipu online menggunakan #BlackFriday untuk mengambil kesempatan untuk menipu korban selama periode online yang sibuk."

Berkembangnya penipuan online pada Black Friday juga mendorong FBI untuk mengirim peringatan kepada orang-orang di AS tentang bahaya penipuan online. "Ini musim untuk penipuan liburan," kata FBI melalui akun Twitter-nya.

"Lindungi diri Anda dari #BlackFriday & #CyberMonday. Waspadai penipuan dan laporkan kecurangan keuangan atau kejahatan internet yang mencurigakan ke Pusat Kejahatan Internet," lanjut peringatan FBI itu. kbc10

Bagikan artikel ini: