Pasokan ayam dan telur diyakini cukup saat Natal dan Tahun Baru 2019

Kamis, 22 November 2018 | 18:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Mahalnya harga pakan jagung di kisaran Rp 5.500 per kilogram (kg) diyakini tidak mempengaruhi pasokan telur dan daging ayam broiler nasional. Ketersediaannya  dianggap memenuhi kebutuhan hingga Natal dan Tahun Baru 2019.

"Kita harap dengan pasokan yang cukup masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan tenang," ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita di Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Ketut mengatakan proyeksi kebutuhan daging ayam tahun 2018 mencapai 3.051.276 ton atau 254.273 ton tiap bulannya. Hal itu tergolong lebih rendah dari potensi produksi daging ayam DOC (Day Old Chicken/ Ayam Umur Sehari) Final Stock Broiler (Ayam Pedaging) yang mencapai 3.517.731 ton atau 293.143 tiap bulannya.

Berdasarkan perbandingan ketersediaan dan kebutuhan itu, I Ketut menyimpulkan terdapat surplus produksi daging ayam sebanyak 269.582 ton atau setara 22.482 per bulannya.

Data itu juga melibatkan perhitungan realisasi produksi 14 perusahaan pembibitan ayam. Jumlah ayam yang menjadi sasaran potensi produksi daging pun mencapai 3.281.345.300 ekor ayam. Sementara untuk telur ayam ras, menurut I Ketut  proyeksi kebutuhan telur ayam ras pada tahun 2018 mencapai 1.766.410 ton atau setara 147.201 per bulannya.

Sementara itu, potensi produksi telur tahun 2018 mencapai 2.561.481 ton atau setara 213.457 per bulannya. Pada akhirnya, I Ketut mengklaim terjadi surplus produksi telur ayam ras sebanyak 795.071 ton atau setara 66.256 ton per bulannya.

Perhitungan produksi telur yang disebutkan I Ketut berdasarkan jumlah ayam layer komersial yang telah mencapai usia 4,5 bulan sebagai usia ketika ayam telah mulai memproduksi telur. Jumlah ayam yang telah mencapai usia keseluruhan ayam dalam usia produktif (19-88 minggu) pun diperkirakan sebanyak 149.103.895 ekor ayam.

Jumlah produksi telur pun dihitung dengan persamaan 1 kg sebesar 17 butir dengan ketentuan masa hidup ayam layer 85 minggu dan masa produktif 67 minggu. "Artinya di atas umur 88 minggu itu, ayam sudah tidak produktif," terang Ketut.

Menjawab pertanyaan harga telur yang saat ini  sudah mencapai Rp 22.000 per kilogram, Ketut beranggapan harga tersebut masih dalam batas wajar .Mengingat Permendag No 96 tahun 2018 tentang Harga Acuan harga telur di tingkat konsumen harganya sebesar Rp 23.000 per kg.

Kementerian Perdagangan memiliki perhitungan bahwa harga pada batas tertentu akan mempengaruhi baik inflasi maupun deflasi. ”Harga telur sebesar Rp 22.000 per kilogram masih wajar. Peternak senang tapi tidak memberatkan konsumen,” kata Ketut.kbc11

Bagikan artikel ini: