Pebisnis tekstil mulai kelimpungan akibat pelemahan rupiah

Rabu, 19 September 2018 | 13:46 WIB ET

BANDUNG, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku industri tekstil mulai merasakan dampak menguatnya kurs dolar Amerika Serikat. Hal itu terungkap saat Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Sekretaris Daerah Pemprov Jabar Iwa Karniwa melakukan kunjungan kerja ke UPT Tekstil Majalaya. Dalam kunjungan kerja ini diadakan dialog bersama para pelaku usaha UMKM Komunitas Pangsa Pasar Tekstil dan Produksi Tekstil (TPT) Majalaya.

Pada kesempatan berdialog itu, Ketua Umum TPT Majalaya Aep Hendar mengeluhkan banyaknya pelaku industri di Majalaya dan sekitarnya dengan menurunnya potensi UMKM. Hal itu dilatarbelakangi, dengan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

Aep mencontohnya peningkatan harga meliputi beberapa bahan baku, yang di antaranya bahan baku benang tenun, suku cadang, dan biaya produksi yang berimbas pada harga jual produk.

“Kenaikan harga tersebut tentu tidak seiring dengan kenaikan harga jual hasil produk. Di sisi lain sangat sulit untuk menyesuaikan dengan bahan baku. Mengingat bahan baku merupakan komponen terbesar hingga 40% dari HPP,” kata Aep.

Atas itu, berimbas produksi yang terhenti hingga dengan merumahkan para karyawannya. “Beberapa anggota kami telah mengurangi kapasitas produksinya, ada yang telah mengurangi kapasitas produksi, ada yang sudah berhenti sementara menunggu harga stabil, dan sementara sebagian karyawan juga kami rumahkan,” ungkap dia.

Menanggapi itu, Airlangga menghimbau agar TPT Majalaya khususnya mampu meningkatkan produktivitas. Meski Airlangga tidak menampik pelemahan rupiah, sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi produksi, namun begitu cara untuk mengimbangi hal itu, dengan memitigasi kenaikan itu dibebankan ke konsumen atau dengan meningkatkan produktivitas.

“Kalau harga ini kan tergantung harga internasional, jadi pada saat kenaikan maka harga domestik juga sudah pasti naik. Salah satunya kapas kan kita impor dan kalau poliester sebagian dari dalam negeri, rayon bisa menjadi alternatif yang akan diproduksi oleh nasional. Tentunya switching dari material kapas, poliester dan rayon dikombinasikan untuk memitigasi perubahan cost,” ungkap Airlangga.

Sementara itu, Sekda Jabar menyebut, bahwa industri tekstil masih memiliki potensi yang sangat besar untuk tumbuh dan berkembang pada masa depan. Oleh karena itu, berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) pada 2015-2035, sektor ini diprioritaskan dalam pengembangannya agar mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional.

“Pada kesempatan kali ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mendorong dan memajukan industri tekstil dan produk tekstil dalam menerapkan produksi bersih di industrinya. Sehingga meningkatkan daya saing produknya di pasar lokal maupun luar negeri, tentu dengan meningkatkan efektifitas produksi walaupun harga bahan baku yang juga tinggi” kata Iwa.

Provinsi Jawa Barat mempunyai peranan penting dalam perekonomian national. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat memberikan kontribusi tertinggi ketiga sebesar 14.88%, setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur pada Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional.

Perkembangan pangsa pasar ekspor Jawa Barat pada akhir 2017 disumbangkan oleh subkelompok tekstil dan produk tekstil (19,8%), diikuti oleh kendaraan bermotor (17,5%), elektronik (17,4%), dan kimia (7,0%). Namun demikian, pangsa pasar ekspor TPT terus mengalami penurunan, di mana angka tertinggi ekspor TPT dicapai pada tahun 2.000 sebesar 25,44%. kbc10

Bagikan artikel ini: