Jokowi undang anak dan cucu konglomerat di Istana, ini yang disampaikan

Senin, 27 Agustus 2018 | 19:37 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menemui anak dan atau cucu konglomerat Indonesia alias generasi kedua dan ketiga yang tergabung dalam Kamar Dagang Indonesia (Kadin) di Istana negara pada Senin (27/8/2018) siang ini. Pertemuan tersebut membahas kondisi ekonomi terkini di Tanah Air.

Beberapa yang terlihat hadir, antara lain, Anindya Bakrie dari Bakrie Group, Martin Hartono dari Djarum Group, Axton Salim dari Salim Group, John Riady dari Lippo Group, Michael Wijaya dari Sinarmas Group.

Dalam pertemuan tersebut, Jokowi mengakui masih banyak peluang perbaikan ekonomi yang harus dilakukan pemerintah. Ia bercerita, pandangan ini terutama muncul ketika ia bertemu Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. 

"Saya kira masih banyak peluang perbaikan yang harus dilakukan. Intinya kami ingin tidak melulu konsentrasi pada pertumbuhan ekonomi, tapi yang lebih penting kualitas pertumbuhan ekonomi itu sendiri," ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, Kim tak memberikan saran khusus, meski diminta. Kendati demikian, Jokowi menilai perbaikan ekonomi di dalam negeri harus terus dilakukan guna menghadapi gejolak eksternal yang kian kencang. 

Jokowi, antara lain, menyoroti masalah defisit transaksi berjalan yang tidak wajar. Pada Kuartal II kemarin, rasio defisit transaksi berjalan tercatat 3 persen dari PDB. Defisit tersebut terutama disebabkan defisit neraca perdagangan yang mencapai US$1,03 miliar pada semester pertama tahun ini. 

"Saya kira kami akan fokus ke sana. termasuk terutama di neraca perdagangan," tuturnya. 

Tak hanya itu, Jokowi juga berpendapat pemerintah harus memperbaiki defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dari sisi keseimbangan primer. Per Juli, angkanya mencapai Rp4,9 triliun.

"Saya yakin dalam satu tahun ini kita bisa menyelesaikan," jelas dia.

Jokowi menceritakan pemerintah selama ini tidak pernah melihat segala sesuatu secara detail. Ia mengaku baru menyadari implementasi pencampuran biodiesel 20 persen ke dalam BBM Solar (B-20) ternyata bisa mendongkrak harga minyak kelapa sawit dan menurunkan impor minyak.

Selain itu, implementasi B-20 bisa bikin defisit transaksi berjalan Indonesia susut US$5 miliar.

Dalam kesempatan tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menyebut pemerintah terus menggenjot pariwisata guna mendorong perekonomian. Sejak menjabat empat tahun lalu, Jokowi mengklaim telah meningkatkan infrastruktur seperti bandara, pelabuhan, dan terminal.

Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan 10 'Bali' baru di Indonesia guna menarik banyak perhatian wisatawan dan menyaingi negara sahabat. 

"Begitu konsentrasi (di Pariwisata). Saya kira akhir tahun ini 17 juta bisa tercapai. Thailand bisa, kenapa kita enggak bisa? Paling tidak menyamai mereka," tutur mantan Wali Kota Solo ini. kbc10

Bagikan artikel ini: