Biaya transportasi kembali normal, Inflasi Jatim Juli di level 0,07%

Rabu, 1 Agustus 2018 | 17:54 WIB ET
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono

SURABAYA, kabarbisnis.com: Laju Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi Jawa Timur sepanjang Juli 2018 tercatat cukup rendah, hanya sekitar 0,07 persen. Kondisi tersebut ditengarai karena biaya atau harga jasa transportasi kembali normal.

“Setelah mengalami kenaikan harga saat momen lebaran, harga angkutan udara dan angkutan antar kota kembali normal. Hal inilah yang menyebabkan kelompok pengeluaran transportasi justru mengalami deflasi 0,59 persen dan menjadi penghambat laju inflasi di bulan Juli,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono di Surabaya, Rabu (1/8/2018).

Sementara untuk lima kelompok pengeluaran yang lain masih tetap mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yang mencapai 0,35 persen, selanjutnya kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mencapai 0,30 persen.  Kelompok pendidikan dan rekreasi alami inflasi sebesar 0,15 persen dan kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,14 persen.

“Tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di bulan Juli adalah telur ayam ras, bensin dan cabe rawit. Adanya kenaikan harga telur sejak awal bulan hingga pekan akhir Juli di hampir semua kota IHK di Jatim menyebabkan komoditas ini menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi,” terangnya.

Kondisi tersebut menurut Teguh karena tingginya permintaan telur ayam ras yang tidak diimbangi oleh ketersediaan telur dari produsen menyebabkan harga di pasaran menjadi naik. Kenaikan ini memang di luar kelaziman karena momen puasa dan lebaran yang biasanya mengerek harga telur sudah lewat.

“Sedangkan untuk bensin, inflasi disebabkan adanya kenaikan harga BBM non subsidi khususnya Pertamax Series dan Dex Series per tanggal 1 juli 2018. Harga Pertamax naik menjadi Rp 9.500 per liter dari Rp 8.900 per liter. Sementara Pertamina Dex naik menjadi Rp 10.500 per liter dari sebelumnya Rp 10.100 per liter,” jelasnya.

Inflasi, ujar Teguh, terjadi di hampir seluruh kota IHK. Inflasi tertinggi terjadi di Malang yang mencapai 0,21 persen, selanjutnya Madiun 0,17 persen, Kediri 0,09 persen, Probolinggo 0,06 persen dan Surabaya serta Banyuwangi mencapai 0,03 persen. Sementara Jember mengalami deflasi sebesar 0,08 persen.

“Untuk laju inflasi tahun kalender Jatim bulan Juli 2018 mencapai 1,68 persen. Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun, dari Juli 2017 terhadap Juli 2018 mencapai 2,58 persen,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: