Penguasaan bahasa asing minim jadi penyebab rendahnya produktivitas pekerja RI

Senin, 30 Juli 2018 | 07:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produktivitas pekerja Indonesia saat ini masih rendah. Bahkan di antara negara Asean, Indonesia menempati peringkat keempat di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand. Padahal, sebagai negara dengan penduduk terbanyak di Asia Tenggara, semestinya Indonesia bisa memanfaatkan hal tersebut sebagai kekuatan dalam pembangunan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, salah satu penyebab rendahnya produktivitas pekerja Indonesia karena penguasaan bahasa asing yang terbatas. "Padahal komunikasi secara verbal maupun non-verbal dalam dunia kerja kini sudah tidak dapat dilepaskan dari bahasa asing," ujar Imelda dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/7/2018).

Imelda mengatakan, saat ini banyak alat atau mesin pabrik yang petunjuk pengoperasiannya menggunakan bahasa asing. Ketidakmampuan ini dapat menjadi penghambat bagi pekerja Indonesia untuk bekerja secara cepat dan efisien.

Untuk mengatasi masalah ini, mereka butuh pelatihan tersendiri untuk mengoperasikan peralatan tersebut. Namun, ternyata hal ini mendatangkan dampak yang kurang baik karena waktu pekerja habis untuk latihan.

"Perusahaan akhirnya harus mendatangkan pekerja asing yang memang memiliki kompetensi dalam mengoperasikan alat atau mesin tersebut," kata Imelda.

Dengan melihat permasalahan tersebut, pekerja dituntut meningkatkan kompetisi diri sebelum menyalahkan kehadiran tenaga kerja asing. Perusahaan tak mau ambil risiko dengan mempekerjakan pekerja yang tak memahami pengoperasian peralatan yang ada.

Imelda mengatakan, jika kompetensi pekerja Indonesia sudah semakin tinggi dan mampu menduduki posisi-posisi penting, tentu perusahaan tidak perlu susah-susah mendatangkan pekerja asing. Selain menguasai bahasa asing, pekerja pun harus memiliki kompetensi yang memadai di bidang-bidang yang mendukung performa kerjanya.

Menurut Imelda, perusahaan harus konsisten memberikan berbagai pelatihan yang menyangkut peningkatan kapasitas pekerjanya. Selain pelatihan secara berkala, kehadiran pekerja asing juga harus dimanfaatkan untuk proses transfer ilmu untuk para pekerja Indonesia.

"Budaya kerja pun harus diperbaiki, salah satunya adalah menanamkan sikap disiplin dan budaya tepat waktu. Hal ini sangat berkontribusi pada produktivitas kerja," lanjut dia.

Hal lain yang menjadi kendala para pekerja yakni masalah upah dan pemenuhan hak-hak pekerja. Indonesia masih dihadapkan pada masalah ketidakmerataan UMR atau UMP yang ditetapkan pemerintah daerah. Jika produktivitas tinggi hanya ditunjukkan daerah di Pulau Jawa saja, masih ada 80 persen pekerja di Indonesia yang produktivitasnya cendrung rendah.

Menurut Imelda, permasalahan UMR atau UMP harus menjadi prioritas bersama antara pemerintah dengan pelaku usaha. "Dengan menyelesaikan permasalahan upah, diharapkan para pekerja bisa berkonsentrasi lebih pada kompetensi dan keahliannya. Hal ini juga akan membawa dampak pada produktivitas dunia usaha," kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: