Jika disambung, sepanjang ini sampah sedotan di Indonesia per hari

Jum'at, 27 Juli 2018 | 07:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendukung free straw movement atau gerakan tanpa sedotan yang kini sedang digalakkan beberapa restoran dan kafe. Gerakan tersebut dianggap KLHK dapat menjadi suatu cara mengurangi jumlah sampah plastik yang mulai mengkhawatirkan.

"Kami memang harapkan adanya movement seperti ini dari pihak swasta, dari restoran, dari kafe. Kami terus mendorong masyarakat dan swasta untuk melakukan hal tersebut," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Menurut dia, jumlah sedotan yang dibuat setelah diminum memberikan kontribusi cukup besar bagi keberadaan sampah plastik di Indonesia.

Menurut Vivien, terdapat 93 juta batang sedotan dibuang setiap harinya di Indonesia. "Jumlah itu kalau disambungkan bisa Jakarta-Meksiko," imbuhnya.

Dengan kondisi tersebut maka tak heran jika sedotan memberikan kontribusi cukup besar pada keberadaan sampah plastik. Data KLHK menunjukkan bahwa sampah plastik tiap tahunnya mencapai 65 juta ton. Isu global Keberadaan sampah plastik ini pun telah menjadi isu global. Sampah plastik di Indonesia bahkan mendapatkan perhatian lebih dari Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim ketika berkunjung ke Bali awal Juli lalu.

"Presiden Bank Dunia datang ke Bali ketemu beberapa menteri dan aktivis belum lama ini. Cuma satu yang dibahasnya, yaitu masalah plastik, itu kenapa? Karena sudah mengkhawatirkan," tutur Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar dalam kesempatan yang sama.

Kekhawatiran itu muncul lantaran berdasarkan data KLHK, jumlah sampah plastik yang ada di Indonesia dalam kurun waktu satu dekade terakhir menunjukkan tren meningkat. Sejak 2002 hingga 2016 terjadi peningkatan jumlah sampah plastik sebesar 5 persen.

"Peningkatan sampah plastik dari tadinya 11 persen menjadi 16 persen. Bahkan di beberapa kota komposisinya ada yang sudah mencapai 17 persen," kata Novrizal. kbc10

Bagikan artikel ini: