Dorong kinerja UMKM, Stiamak beri pelatihan administrasi keuangan dan penjualan online

Selasa, 24 Juli 2018 | 17:04 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi dan Manajemen Kepelabuhanan (Stiamak) Barunawati Surabaya kembali memberikan pelatihan kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kali ini, pelatihan diberikan untuk UMKM yang berada di kecamatan Semampir Surabaya. 

Ada sekitar 53 UMKM yang hadir dan mengikuti pelatihan tentang administrasi keuangan serta penjualan online yang digelar di kantor kecamatan Semampir Surabaya.pada hari ini, Selasa (24/7/2018). 

Ketua LPPM Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Stiamak Barunawati Surabaya, Soedarmanto mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai wujud pengamalan dari Tridarma Perguruan Tinggi yang salah satunya harus mengabdi kepada masyarakat.

“Sebagai akademisi, kami ingin membantu dan mengabdi kepada masyarakat dengan ilmu yang kami miliki. Karena Ketua kami Bapak Iwan Sabatini sangat konsen dalam peningkatan kinerja UMKM, maka sejak tahun 2015 kami mulai menyentuh wilayah ini. Sebelumnya, pelatihan UMKM telah kami laksanakan di Sidoarjo. Dan sekarang di Semampir karena ini adalah wilayah kerja kami. Selanjutnya juga akan dilakukan di sekitar Perak,  yaitu di Kecamatan Pabean Cantikan. ” ujar Soedarmanto di sela pelatihan.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sejauh ini kelemahan UMKM adalah soal manajemen atau administrasi keuangan atau akuntansi dan mekanisme penjualan secara online. Untuk itulah pada pertemuan kali ini, Stiamak berupaya memfasilitasi para UMKM yang hadir agar mengerti dan paham tentang kedua hal tersebut.

“Ini sangat mendesak karena untuk mengembangkan bisnis butuh dana. Kalau UMKM tidak memiliki laporan keuangan, maka bank tidak akan mau memberikan pinjaman. Dan data dari kecamatan Semampir, sekitar 90 persen UMKM di Semampir tidak memahaminya,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Owner Famu Cake & Cookies, Habsyiah mengaku sangat senang dengan adanya pelatihan ini. Karena selama ini, ia sangat tidak mengerti bagaimana membuat administrasi keuangan yang baik dan benar. Bahkan ia mengaku baru sedikit memahaminya saat dibantu oleh seorang mahasiswa Unair yang kebetulan melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tempatnya.

“Sebelumnya saya tidak paham sama sekali. Tidak pernah saya hitung berapa pengeluaran dan berapa pemasukan yang saya dapatkan. Makanya laporan keuangannya amburadul. Saya mulai terbantu dengan anak KKN, mereka membuatkan dan mengajari saya administrasi keuangan yang simpel dan mudah. Ditambah dengan adanya pelatihan ini, saya berharap bisa lebih baik lagi,” akunya.

Ia bercerita bahwa ia mulai merintis usaha jualan kue kering sejak tahun 2012, bermula dari usaha musiman saat mau lebaran. Saat itu omset yang diperoleh masih kecil, hanya sekitar Rp 1 juta dalam satu musim lebaran. 

Dengan kegigihan, maka usahanya sekarang sudah membesar. Dalam musim lebaran, omset yang dikantonginya mencapai sekitar Rp 15 juta. Sementara saat hari biasa, ia beralih memproduksi cake. 

“Kondisi pasar yang tidak stabil membuat kami bingung. Saat musim lebaran kami kewalahan menerima orderan tetapi kalau tidak musimnya, bingung mau menjual kemana. Makanya saya juga ingin belajar tentang bagaimana menjual secara online. Apalagi sekarang saya juga telah mengembangkan produksi saya, tidak hanya kue kering dan cake, saya juga memproduksi kripik India, kripik yang berbahan baku kulit Samosa,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: