DPRD minta Pemkot Surabaya kreatif ramaikan sentra PKL

Kamis, 5 Juli 2018 | 14:13 WIB ET
Ketua  DPRD Surabaya, Armuji
Ketua DPRD Surabaya, Armuji

SURABAYA, kabarbisnis.com: DPRD Kota Surabaya berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan pengembangan sentra pedagang kaki lima (PKL) secara lebih terencana, sehingga hasilnya optimal dan bisa meningkatkan pendapatan para PKL.

Saat inspeksi ke sejumlah sentra PKL wisata kuliner, belum lama ini, jajaran DPRD Kota Surabaya mengkritisi masih belum optimalnya pengembangan kawasan pusat jajanan yang diharapkan bisa menjadi jantung ekonomi rakyat itu.

”Jadi setelah kita kaji dan mendengar aspirasi para PKL, memang perlu upaya yang lebih inovatif dan kreatif dalam meramaikan sentra-sentra PKL ini. Semakin banyak pengunjung yang datang, tentu dampak ekonomi ke PKL semakin besar,” ujar Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji usai mengunjungi Sentra PKL Wisata Kuliner Semolowaru dan Gunung Anyar.

Armuji mencontohkan sejumlah program kreatif yang perlu digelar lebih rutin di sentra-sentra PKL, seperti atraksi seni musik, beragam event budaya, maupun acara-acara berbasis komunitas.

”Pemkot Surabaya bisa menggandeng kelompok pengamen, komunitas-komunitas anak muda, sanggar-sanggar seni untuk bikin acara di sentra-sentra PKL. Promosikan acaranya melalui media sosial, kemas dengan kreatif. Pasti akan menarik pengunjung,” ujarnya.

”Dinas terkait harus lebih kreatif. Jangan hanya bikin sentra PKL tapi kemudian tidak ada program lanjutannya. Di sinilah pentingnya pengembangan dengan perencanaan, jadi tidak asal bikin sentra PKL,” imbuh Armuji

Saran Armuji itu memang sejalann dengan aspirasi para PKL. Ketua Paguyuban

Sentra PKL Semolowaru, Leman, mengatakan, pihaknya berharap sentra PKL itu bisa ramai. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan sering menggelar event di tempat tersebut untuk menarik pengunjung.

Sejauh ini, sambung dia, hanya pernah ada event lomba melukis di tempat itu. Namun, kurang maksimal, serta tidak dilakukan secara konsisten.

”Saat ini di sini ada 35 stan PKL, yang aktif 25 PKL. Semuanya warga Surabaya, dan 70 persen adalah warga sekitar sini. Sebagian besar berjualan malam hari, karena saat malam pasti lebih ramai. Di sini tertolong ada musik dari anak-anak muda sekitar. Kalau pagi dan siang memang masih belum ramai, maka kami ingin ada cara baru untuk membuat sentra PKL ini semarak,” ujarnya.

Para PKL itu membayar iuran bulanan ke Pemkot Surabaya sebesar Rp60 ribu. Adapun biaya listrik dibayarkan secara kolektif melalui paguyuban.

Leman menambahkan, para PKL juga ingin ada tambahan fasilitas tenda, sehingga saat siang bisa lebih teduh agar bisa menarik pengunjung. ”Yang juga perlu ditambah adalah lampu penerangan jalan di sekitar sini serta papan nama yang menarik perhatian. Itu sangat perlu, karena selama ini, tidak ada penunjuk yang besar, bahwa di sini ada sentra kuliner Semolowaru,” ujar Leman.

”Pesaing juga banyak, seperti munculnya sentra-sentra makanan. Maka perlu banyak pembenahan di sentra PKL ini agar bisa tetap bersaing,” imbunya.

Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Erwin Tjahyuadi, menambahkan, Dinas Koperasi dan UMKM perlu lebih terencana dalam mengembangkan sentra PKL. Saat ini, harus diakui bahwa sentra-sentra PKL yang dikembangkan dinas tersebut belum berjalan optimal. Sebagian dari sentra-sentra PKL yang dikelola Pemkot Surabaya masih sepi.

”Saya khawatir yang sepi-sepi itu menuju tutup. Maka perlu segera langkah-langkah untuk menggairahkan kembali sentra-sentra PKL, karena di sinilah denyut ekonomi rakyat karena benar-benar dimiliki oleh rakyat kelas menengah ke bawah,” ujarnya.

”Intinya, Dinas Koperasi dan UMKM perlu lebih cermat. Jangan hanya membangun sentra PKL dengan APBD, namun tidak bisa kreatif dalam mengelolanya. Contoh kecil saja, di sentra PKL Semolowaru itu ada taman. Kenapa tidak menggandeng komunitas untuk memanfaatkannya, misalnya mengajak komunitas pencinta burung untuk berlatih di sana. Sehingga ada orang datang ke sentra PKL ini,” imbuh Erwin.

DPRD Surabaya telah meminta Pemkot Surabaya untuk menghentikan sementara pembangunan sentra PKL jika tidak punya konsep yang jelas. Setiap pembangunan sentra PKL harus dikaji matang, termasuk di dalamnya aspek pemasaran.

”Harus dikaji dulu, misalnya mobilitas penduduk di sekitar sentra PKL, daya belinya, dan sebagainya. Jangan asal ada selera, ada fasilitas umum milik Pemkot, langsung saja dibangun sentra PKL, akhirnya kini sepi.  Jadi kalau sudah dibangun, jangan dibiarkan. Harus dibimbing, dipantau terus,” pungkas Erwin. kbc2

Bagikan artikel ini: