Ramadan dan Lebaran, DPRD Surabaya minta Pemkot antisipasi lonjakan harga sembako

Senin, 21 Mei 2018 | 11:12 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya meminta Pemkot Surabaya untuk melakukan langkah sistematis guna mengantisipasi lonjakan harga bahan kebutuhan pokok saat memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri. Langkah tersebut penting agar harga bisa dikendalikan, sehingga tidak menambah beban ekonomi masyarakat.

”Saat ini situasi Surabaya memang sedang tidak mengenakkan setelah terjadi aksi terorisme. Selain fokus mengembalikan kembali kondusivitas Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya juga harus berkonsentrasi melakukan pengendalian harga berbagai bahan kebutuhan pokok. Tentu saja itu semua dengan dukungan dan sinergi berbagai pihak,” ujar Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Aden Darmawan.

Aden mengatakan, momen Ramadan dan Lebaran kerap dimanfaatkan oleh para spekulan pasar dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memainkan harga. Tujuannya tak lain adalah untuk meraup untung yang sebesar-besarnya. Dalam hal ini, tentu saja yang dirugikan adalah masyarakat.

”Apalagi dalam situasi sekarang yang masih terimbas aksi terorisme, jangan sampai itu dimanfaatkan spekulan dengan alasan macam-macam, seperti distribusi barang terhambat. Pemkot Surabaya harus benar-benar mengawasi itu dengan memantau manajemen pasokan barang. Pastikan pasokan lancar agar permintaan barang di pasar bisa dipenuhi,” papar Aden.

DPRD Kota Surabaya mengimbau kepada para spekulan dan pedagang besar untuk tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah kesulitan masyarakat. ”Jangan gelap mata untuk mengambil keuntungan,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan DPRD Kota Surabaya, saat ini harga sejumlah komoditas memang mulai menunjukkan peningkatan, misalnya telur dan gula. Hal itu terekam saat Aden sidak ke sejumlah pasar di Surabaya, di antaranya Pasar Gayungsari, Pasar Gayungan PTT, dan Pasar Pagesangan.

”Telur adalah bahan makanan yang relatif murah. Sekarang harganya naik ke kisaran Rp 28.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp 20.000 per kilogram. Sudah 40 persen kenaikannya. Tentu ini cukup memberatkan,” papar Aden.

Aden menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi saat bulan Ramadan pasti selalu menanjak. Berdasarkan data historis bulan Juni 2017 saat Ramadan dan Lebaran, inflasi di Kota Surabaya saat itu menanjak hingga 0,52 persen, melampaui rata-rata inflasi Jawa Timur ketika itu yang hanya sebesar 0,49 persen.

Inflasi Kota Surabaya pada periode April 2018 mencapai 0,20 persen. Aden berharap, tingkat inflasi itu terkendali sampai Lebaran tiba.

”Memang pasti akan ada kenaikan inflasi pada Mei dan Juni 2018 dibanding posisi April, seperti tren pada tahun-tahun sebelumnya. Tapi kami berharap dengan antisipasi dan langkah yang cermat, tekanan risiko inflasi yang cenderung meningkat saat Ramadan dan Lebaran bisa dikendalikan,” kata Aden.

Menurut Aden, terdapat tiga faktor kunci yang bisa meminimalisasi tekanan kenaikan harga saat Ramadan dan Lebaran. Pertama, menjaga ketersediaan komoditas strategis di masyarakat. Dengan terpenuhinya pasokan, maka tidak akan terjadi kelangkaan barang yang bisa memicu kenaikan harga.

”Dinas terkait harus benar-benar cermat dalam menyusun dan mengawasi neraca suatu komoditas. Ada neraca yang terukur, berapa pasokan, berapa permintaan masyarakat. Jika itu sudah sesuai, dan tetap terjadi kekurangan barang di pasar, bisa jadi ada yang memainkan, misalnya dengan menimbun barang. Hal seperti itu harus ditindak tegas,” ujar Aden.

Kedua, faktor gaya berbelanja masyarakat. Meski Pemkot Surabaya dan berbagai pihak berwenang telah melakukan manajemen pasokan barang dengan baik, jika masyarakat berbelanja dengan tidak normal, kenaikan harga akan tetap terjadi.

”Kami berharap masyarakat ikut aktif dalam menjaga psikologi pasar selama Ramadan dan Lebaran. Caranya cukup simpel, yaitu dengan membeli barang secukupnya dan sewajarnya. Masyarakat tak perlu khawatir soal pasokan, karena stok komoditas di Surabaya menjelang Lebaran lebih dari cukup,” ujar Aden.

Menurut wakil rakyat dari Partai Gerindra ini, psikologi pasar ini penting karena kerap kali menjadi penentu pembentukan harga. ”Masyarakat tak perlu memborong komoditas, tak perlu panic buying, yang bisa memengaruhi pergerakan harga,” ujarnya.

Ketiga, saran Aden, Pemkot Surabaya bisa menggelar pasar murah Ramadan hingga menjelang Lebaran tiba. Di pasar murah tersebut, berbagai barang kebutuhan pokok dijual dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasar. Pemkot Surabaya bisa menggandeng Bulog dan berbagai pihak terkait untuk melaksanakan pasar murah tersebut.

”Pasar murah ini seperti operasi pasar. Tujuannya menjembatani masyarakat yang merasa harga di pasar terlalu mahal. Sehingga otomatis para spekulan dan pedagang besar tidak akan ugal-ugalan menaikkan harga karena melihat harga di pasar murah tersebut. Ini untuk menyeimbangkan pasar,” ujarnya.

Dengan berbagai antisipasi tersebut, Aden berharap masyarakat bisa berlebaran dengan senyum mengembang lantaran pendapatannya tak digerus inflasi kenaikan harga barang. kbc3

Bagikan artikel ini: