Mata kering, sindrom kekinian yang perlu diwaspadai

Senin, 30 April 2018 | 07:05 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Menurut laporan dari US National Library of Medicine National Institute of Health (NCBI), sekitar 6O juta orang di dunia mengalami mata kering. Di lndonesia sendiri prevalensi mata kering pada 2017 mencapai 30,6 persen dari jumlah penduduk. NCBI juga mencatat terjadinya pergeseran obyek penderita mata kering, yang semula kerap dikaitkan dengan pasien Iansia, dan beberapa tahun terakhir banyak terjadi pada usia muda karena pergeseran gaya hidup terutama penggunaan media digital.

Sindrom mata kering atau dry eye syndrome atau keratoconjunctivitis adalah kondisi mata yang mengalami kekurangan cairan akibat air mata yang mudah menguap atau produksi air mata terlalu sedikit. Penyebab sindrom mata kering sebenarnya beragam, mulai dari usia, faktor Iingkungan seperti debu dan asap rokok, riwayat operasi mata, penyakit autoimun dan diabetes, penggunaan obat tertentu seperti tetes mata, dan aktivitas penggunaan komputer atau gadget.

Topik inilah yang mengemuka pada acara media gathering bersama Ferron “Mata Kering, Sindrom Kekinian yang Perlu Diwaspadai”, di Four Points Hotel Surabaya, 28 April 2018. Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut dr. Nina Asrini Noor, SpM dari RS Mata Jakarta Eye Center dan dr lsmi Zuhria, SpM dari PERDAMl Jawa Timur sekaligus Staf Medis Fungsional RSUD Dr. Soetomo Surabaya/FK Universitas Airlangga.

Di era digital saat ini, penggunaan gadget yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab terbesar meningkatnya tren sindrom mata kering. Bagaimana tidak, rata-rata durasi penggunaan internet di lndonesia mencapai 8 jam 51 menit setiap harinya atau menempati peringkat keempat dunia. Penggunaan gadget apalagi dalam waktu yang lama dan kurang tepat, tanpa disadari membuat mata menjadi lelah, perih, dan gatai, yang dapat menyebabkan gangguan yang akan berdampak serius pada kesehatan mata. 

Sayangnya, banyak orang kurang menyadari gejala-gejala ini adalah gangguan yang harus ditangani sagera. "Apalagi dari pasien yang terdeteksi terkena sindrom mata kering ini, 40 p3rsennya tidak merasakan gejala,” jelas dr Nina Asrini Noor SpM. 

Seiain itu, dr Nina mengatakan, penanganan dry eye yang tidak tepat bisa menimbuikan ketergantungan pada obat tetes mata, bahkan sampai menurunkan kualitas hidup, menimbuikan efek lebih serius, hingga kerusakan pada kornea yang bisa jadi rusak permanen.

“Jangan sepeiekan gangguan mata kering. Karena bisa berakibat fatal. Sehingga kami menyarankan apabila terdapat keiuhan dengan gejaia-gejaia seperti mata gatai, leiah, mata merah, ada rasa mengganjal dan sensasi berpasir, rasa terbakar dan perih, mudah siiau serta sensitif terhadap cahaya, juga pengiihatan yang tidak fokus, segeraiah periksakan kondisi mata ke dokter. Bisa juga mengonsumsi asupan gizi yang tepat seperti omega 3,” kata dr lsmi menerangkan. 

Dari beberapa peneiitian pada kasus dry eye, konsumsi omega 3 dengan ratio DHA IEPA yang sesuai dapat menurunkan gejaia dari sindrom mata kering. Omega 3 memiliki peranan daiam memperbaiki fungsi keienjar air mata, sekaiigus mengurangi infiamasi yang menyertai gejala dry eye. kbc9

Bagikan artikel ini: