Ekspor tekstil RI pulih, penjualan lokal masih tetap suram

Kamis, 5 April 2018 | 18:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional dihadapkan seperti dua hal yang bertolak belakang. Pada sisi ekspor sepanjang 2017 menampakkan adanya pemulihan, namun didalam negeri dinilai masih suram karena pelemahan daya beli masyarakat.

Data Asosiasi Pertesktilan Indonesia (API) menyebutkan ekspor TPT tahun 2017 mengalami kenaikan 4,4% menjadi US$ 12,4 miliar dari sebelumnya sebesar US$ 11,87 miliar. Torehan kenaikan tersebut tentunya merupakan hal yang menggembirakan mengingat dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan penaikkan ekspor TPT tahun 2018 ini sebesar US$ 13,5 miliar . Namun API justru memprediksi kinerja eskpor TPT akan stagnan. Ketua API Ade Sudrajat di Jakarta, Kamis (5/4/2018) mengatakan, ekspor TPT tahun 2017 tahun lalu tercatat kenaikan di sejumlah pasar Asia Tenggara, Jepang dan Korea Selatan.

“Indonesia sudah melakukan kesepakatan perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) dengan Jepang dan Korsel . Hal ini menyebabkan penaikkan ekspor tekstil,” ujar Ade.

Adapun untuk pasar Uni Eropa (UE) dan Amerika mengalami  penurunan karena pemerintah Indonesia tidak melakukan pernjanjian FTA. Ade mencontohkan Vietnam yang berhasil menorehkan kinerja ekspor TPT hingga US$ 20 miliar setiap tahunnya setelah melakukan kesepakatan FTA dengan UE.

Ekspor TPT dari negara sosialis tersebut memperoleh pembebasan bea masuk 0%.”Sedangkan kalau tidak (melakukan liberalisasi perdagangan red), ekspor TPT  Vietnam akan tetap  mahal karena dikenakan bea masuk hingga 17%,” terang Ade.

Ade pun pesimis pemerintah dapat melakukan penyelesaian pembahasan dalam perundingan FTA dengan UE sampai akhir tahunt 2018. Paling tidak akslerasi perundingan tetap  dapat dilakukan sehingga di tahun 2019 atau 2020 mendatang kesepakatan FTA sudah dapat dijalankan. “Ekspor tekstil saya perkirakan dapat menembus  US$ 15 miliar,” kata dia.

Sementara untuk pasar domestik, Ade menduga kinerjanya tidak lebih baik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Menurutnya masih lemahnya daya beli masyarakat meningkatkan permintaan TPT. Ade menunjuk memasuki jelang Ramadhan, lazimnya order mulai mengalami peningkatan pesat.

Misalnya di Pasar tekstil Tanang Abang, transasksi perdagangan seharusnya sudah terlihat ramai.Namun,faktanya hal tersebut tidak terjadi. “Perdagangan sama seperti pada siklus Januari-Februari. Masih lesu. Ini anomali yang tidak pernah terjadi dalam beberapa tahun mendatang,” cetusnya.

Ade berpendapat kelesuan  ini dikarenakan kenaikan harga bahan bakar Pertalite dan penghapusan subsidi listrik rumah tangga pada triwulan pertama tahun 2017 lalu. Insentif yang diberikan Kemenperin berupa vokasi kepada personel seperti jajaran manajer hingga operator berjalan baik sehingga meningkatkan skill para pekerja.

Namun insentif fiskal yang dijanjikan Kementerian Keuangan dinilai masih sebatas seremonial saja. Dia berharap ada insentif berupa tax holiday selama 20 tahun bagi investasi baru atau senilai Rp 30 triliun ajuga dibarengi insentif fiskal serupa bagi industri baru yang melakukan investasi misalnya senilai Rp 1 triliun maka tax holiday diberikan sebesar lima tahun.

”Ini akan menggairahkan industri TPT,” kata Ade seraya menambahkan jika penghapusan PPh hanya berdampak kecil karena insentif fiskal tersebut hanya berlaku kepada personal minimal supervisor atau manajer bukan operator.kbc11

Bagikan artikel ini: