Menteri Jonan tak lagi ngotot kejar megaproyek pembangit listrik 35.000 MW

Kamis, 8 Maret 2018 | 19:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah tidak lagi mengejar pembangunan megaproyek pembangkit listrik 35.000 MW rampung di akhir 2019, sesuai dengan ambisi Presiden Joko Widodo. Rencananya, sekitar 20.000 MW akan beroperasi pada 2019, selebihnya pada 2024-2025.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan mengungkapkan program 35.000 MW yang harus selesai 2019 dibuat dengan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional di atas tujuh persen. Padahal, realisasi pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir dan beberapa tahun ke depan diperkirakan hanya berkisar lima persen. Dengan demikian, peningkatan tambahan kebutuhan listrik hingga tahun 2019, menurut dia, sebenarnya hanya berkisar 20.000 MW.

"Tambahan kapasitas sebesar itu sudah cukup untuk menjawab peningkatan kebutuhan listrik di tahun 2019," ujar Menteri Energi Sumber Daya (ESDM) Ignatius Jonan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (7/3/2018).

Kendati demikian, berdasarkan data Kementerian ESDM, sejak dicanangkan pada pertengahan 2015, total pembangkit listrik yang sudah beroperasi (Commercial Date Operation/COD) baru mencapai 1.362 MW. Sementara, 17.116 MW sudah dalam tahap konstruksi. Sisanya, baru pada tahap tanda tangan kontrak maupun tahap pengadaan/perencanaan.

Adapun untuk  megaproyek pembangkit listrik 35.000 MW, dalam catatan kabarbisnis.com mencatat pembangkit listik yang telah beroperasi adalah sebesar 1.362 MW dan dalam tahap konstruksi sebesar 17.116 MW.Sejauh ini, sebesar 896 MW dari total 1.362 MW yang beroperasi dihasilkan dari IPP, sementara 466 MW dibangun oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Jonan menyadari ekspektasi publik yang tinggi terhadap program tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa membangun pembangkit skala besar tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Proyek strategis nasional tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk beroperasi dari masa konstruksi. Tak ayal, Jonan optimistis pada tahun 2019 total pembangkit listrik sebanyak 20.000 MW sudah beroperasi.

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengungkapkan secara total kemajuan pembangunan proyek 35.000 MW sudah mencapai 30 hingga 40 %. Jika dirinci, estimasi masa pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memakan waktu sekitar 5-6 tahun, panas bumi (PLTP) bisa 5-6 tahun, pembangkit listrik di atas 600 MW mencapai enam tahun, dan di bawah 600 MW dan 300 MW membutuhkan waktu tiga tahun.”Yang lebih cepat itu (pembangkit) gas bisa 8 bulan sampai 1 tahun," ujar Sofyan.

Salah satu bukti kemajuan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7, PLTU Jawa 9, PLTU Jawa 10 dengan total kapasitas 4.000 MW yang baru diresmikan Persiden Jokowi pada 5 Oktober 2017. Selain itu, masih ada PLTU Jawa I di CIlacap yang penyelesainnya sudah mencapai 37%.

Di samping program 35.000 MW, pemerimtah juga tengah menyelesaikan proyek 7.000 MW sebagai kelanjutan Fast Track Program (FTP) I, FTP II dan Regular. Hingga Januari 2018 total sebanyak 6.424 MW atau sekitar 82% sudah bisa beroperasi, dan hanya 1.407 MW atau 18% yang masih tahap konstruksi.kbc11

Bagikan artikel ini: