Penurunan susut panen komoditas cabai RI jadi rujukan se-Asean

Selasa, 6 Februari 2018 | 09:09 WIB ET

BOGOR, kabarbisnis.com: Cabai merupakan komoditas pertanian yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat. Tidaklah heran, peredaran di pasar begitu besar. Namun, preferensi konsumsi lebih kepada cabai segar menyebabkan harganya berfluktuasi karena sifatnya yang cepat busuk.

Atas hal itu, Balitbangtan Kementerian Pertanian Republik Indonesia akan menjalankan pilot project (proyek percontohan red) teknologi penanganan paska panen komoditas cabai yang membuat produk segar itu mampu bertahan lebih lama.  Hasilnya nanti akan dipresentasikan diantara 10 anggota negara Asean dalam bingkai kerja sama Proyek Penurunan Susut Pasca Panen  Hasil Pertanian dan Produk-produknya di Asean  (Reduction of Post Harvest Losses (PHL) for Agricultral Prdoduces and Products in Asean Region).

Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian Evi Savitri Iriani menuturkan project   ini akan berjalan selama empat bulan ke depan. Project  ini  didanai oleh Japan-Asean Integration Fund sebesar US$100 juta . “Bentuknya dana hibah. Bukan hutang,”ujar Evi menjawab kabarbisnis.com disela Regional Consultation (RC)  PHL for Agricultural Produces and Products in Asean Region di Bogor, Senin (5/2/2018).

Menurut Evi,  Ditjen Hortikultura merekomendasikan lokasi  proyek dapat dilakukan disentra penanaman lokasi Kabupaten Magelang, Jawa Tengah .Adapun cabai menjadi  pertimbangan  dikarenakan besarnya jumlah produksi, pengaruh inflasi dan besarnya susut pasca panen.

“Teknologi yang akan kita coba intervensi. Namun, pertama tama  kita ukur dulu losses dan rantai pasoknya. Kita lihat titik kritisnya setelah kita tahu itu semua baru kita introduksi teknologinya,” ujar Evi.

Petani, kata Evi , lazimnya mengenakan dua model yakni karung plastik dan jaring. Balitbangtan sudah menemukan teknologi kemasan berbahan karton yang akan memperkuat daya tahan kesegaran cabai. Selain itu, pengenalan teknologi paska panen selanjutnya adalah pre-cooling yakni mendinginkan suhu cabai yang usai dipanen untuk diinapkan semalam setelah itu baru dikemas.

“Petani biasanya langsung memasukan hasil panen cabainya ke karung. Padahal buahnya masih panas dan kadar airnya tinggi. Kondisi inilah yang cepat menyebabkan cabai membusuk,” kata dia.

Evi mengatakan kesalahan penangan paska panen tanaman cabai menyebabkan penurunan susut panen hingga 43%. Semakin tinggi lokasi pertanian dan tinggi curah hujan menyebabkan potensi penurunan susut semakin tinggi. Namun dengan sentuhan teknologi dan perlakukan paska panen, maka petani akan menekan susut panen  hingga 20%.

Evi menambahkan mayoritas dengan struktur penanaman di lahan  kecil menyebabkan petani lebih tergiur  segera memperoleh uang dari pengumpul . Akibatnya prinsip good agriculture practises dan good  handling agriculture dalam budidaya tanaman sebagai produk agribisnis cenderung terabaikan.

Dalam projet menekan susut hasil panen ini, Thailand akan mengenalkan teknologi untuk komoditas nanas. Sementara Vietanam  yakni beras. Hasil project akan dipresentasikan di bulan Agustus mendatang ,apabila diterima maka akan diadopsi di masing masing negara. “Ditjen Hortikultura siap mengadopsi  teknologi paska panen apabila project nanti terbukti mampu menurunkan susut panen,” terangnya.

Wakil Rektor Rektor IV IPB Bidang Inovasi Bisnis dan Kewirausahaan Erika Budiarti Laconi melihat produk pertanian yang berdaya saing bukan semata mata disebabkan keberhasilan pemanfaatan teknologi. Namun lebih dari itu, petani harus memperoleh pendampingan ketika upaya penurunan hasil susut paska panen tersebut dilakukan

Kesempatan sama, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan tingkat kehilangan hasil pada kegiatan pasca panen secara global maupun nasional masih sangat tinggi.Di tingkat global, lanjutnya angka kehilangan hasil produksi pada kegiatan penanganan pasca panen dan penyimpanan mencapai 54%, sedangkan di tingkat pengolahan, distribusi, dan konsumsi mencapai 46%.

"Sementara itu tingkat kehilangan hasil produksi pasca panen secara nasional masih di atas 20 persen rata-rata per tahun," kata dia.

Tingginya kehilangan hasil pasca panen tersebut, sambungnya bukan hanya berdampak pada menurunnya sistem ketahanan pangan namun juga dampak negatif ekonomi dan lingkungan.Secara ekonomi, menurut Musdhalifah, tingginya tingkat kehilangan hasil produksi tersebut akan menurunkan panen yang diperoleh petani serta pendapatan mereka.

Musdhalifah menerangkan guna menekan tingginya tingkat kehilangan hasil produksi tersebut diperlukan peran pemerintah terutama dengan memberikan bantuan alat-alat dan mesin penanganan pasca panen.

"Selama ini bantuan alat dan mesin pertanian yang diberikan ke petani masih berupa alat-alat pengolahan lahan maupun untuk menanam, sedangkan alat-alat penanganan pasca panen belum banyak diberikan pemerintah," kata Musdhalifah seraya menambahkan alat-alat dan mesin penanganan pasca panen dapat berupa seperti mesin pengering, gudang penyimpanan maupun silo.kbc11

Bagikan artikel ini: