Sebagian besar perusahaan di Asia Tenggara andalkan teknologi multi-cloud

Senin, 22 Januari 2018 | 22:11 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: F5 Networks (NASDAQ: FFIV) hari ini mengumumkan hasil laporan State of Application Delivery 2018 (SOAD 2018). Survei pelanggan global ini menunjukkan bahwa percepatan penerapan multi-cloud memungkinkan perusahaan memilih platform cloud terbaik yang sesuai dengan persyaratan aplikasi tertentu. Hal inilah yang kemudian menjadikan sebagian besar perusahaan di Asia Tenggara menggunakan teknologi tersebut.

Senior Vice President, Asia Pasifik, China dan Jepang, F5 Networks, Adam Judd, mengatakan, ketika ancaman bobolnya sistem keamanan terus membayangi, tidak ada indukasi perlambatan transformasi digital. Aplikasi merupakan standar baru di Asia Pasifik, di saat disrupsi digital telah mengubah cara lebih dari empat miliar orang di Asia dalam berinteraksi dengan ekonomi berbasis data.

“Laporan State of Application Delivery tahun ini menunjukkan bagaimana transformasi digital berdampak pada berbagai perusahaan di Asia Pasifik seiring dengan semakin fokusnya mereka pada membangun fondasi bagi pengalaman pelanggan berbasis aplikasi yang lebih cepat, lebih pintar, dan lebih aman,” papar Adam Judd dalam siaran pers yang diterima kabarbisnis.com, Surabaya, Senin (22/1/2018).

Di tahun keempatnya ini, laporan State of Application Delivery meneliti peran penting layanan aplikasi dalam membantu perusahaan-perusahaan untuk menerapkan aplikasi secara lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih aman. Lebih dari 3.000 profesional TI, jaringan, aplikasi, dan keamanan dari seluruh dunia mengemukakan pendapat mereka tentang topik-topik penyediaan aplikasi, mulai dari public cloud dan private cloud, serta penerapaan multi-cloud; hingga tantangan keamanan yang terus meningkat; otomatisasi, orkestrasi, dan masa depan layanan aplikasi enterprise.

Respons survei  berasal dari seluruh dunia ini mencakup sektor pemerintah, jasa keuangan, teknologi, dan pendidikan. Para responden berasal dari berbagai profesi, mulai dari bidang infrastruktur, keamanan TI, pengembangan aplikasi, dan DevOps, hingga pejabat eksekutif.

“Adapun pokok temuan survei tersebut, diantaranya, transformasi digital menginspirasi munculnya arsitektur dan inisiatif optimalisasi TI baru. Menurut 69% responden di Asia Pasifik, optimalisasi infrastruktur dan proses TI masih menjadi pendorong utama bagi proyek-proyek transformasi digital,” tambahnya.

Sementara lebih dari setengah responden (51%) menyatakan bahwa transformasi digital telah mendorong penyediaan aplikasi dari cloud. Selain itu, 44% menyatakan bahwa transformasi digital mengubah cara mereka mengembangkan aplikasi, dan 37% melaporkan  tengah mengeksplorasi arsitektur dan lingkungan aplikasi baru, seperti container  dan microservices.

Multi-cloud memungkinkan strategi “cloud terbaik untuk aplikasi”. Sebagian besar perusahaan menentukan strategi terbaik untuk setiap penerapan aplikasi, yang mengarah pada arsitektur multi-cloud. Sebanyak 84% responden di Asia Pasifik melaporkan penggunaan beberapa layanan cloud, dengan hampir setengahnya (49%) menyatakan bahwa penentuan/pemilihan cloud dibuat berdasarkan aplikasi.

“Layanan aplikasi adalah gerbang menuju masa depan. Mayoritas perusahaan memanfaatkan 16 layanan aplikasi yang berbeda agar aplikasi mereka tetap cepat, aman, dan selalu tersedia,” tegasnya.

Tahun ini, 28% responden di seluruh dunia menyatakan bahwa melindungi aplikasi merupakan tantangan keamanan tertinggi. Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya jumlah perusahaan yang menerapkan Web Application Firewall (WAF). Hanya 2% responden di Asia Pasifik yang mengatakan belum berencana melindungi aplikasi mereka dengan WAF dalam 12 bulan ke depan.

Otomatisasi dan okrestrasi, melaju kencang ke depan. Dunia TI tengah mengadopsi kemampuan pemrograman dan melakukan standardisasi terhadap lingkungan otomatisasi dan orkestrasi mereka. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan TI yang lebih efisien sehingga berdampak pada menurunnya biaya operasional (OpEx).

Lebih dari 8 dari 10 responden di Asia Pasifik (81%) melaporkan penggunaan otomatisasi dalam penerapan produksinya. Adapun mayoritas dari mereka memilih “tiga besar” yakni VMware, Cisco, dan OpenStack, untuk memenuhi kebutuhan otomatisasi mereka.kbc6

Bagikan artikel ini: