Ekspor benih kangkung Ewindo ke 3 negara ini tumbuh 50%

Kamis, 21 Desember 2017 | 18:39 WIB ET

PURWAKARTA, kabarbisnis.com: Produsen benih sayuran tropis 'Cap Panah Merah' PT East West Seed Indonesia (Ewindo) memproyeksikan sepanjang tahun 2017 ekspor benih kangkung bertumbuh hingga‎ 50%

Managing Director Ewindo Glenn Pardede mengatakan ekspor benih kangkung ewindo menyasar tiga negara yakni Jepang, Thailand dan Mymanmar. Glenn memproyeksikan ekspor benih kangkung sepanjang tahun 2017 sebesar 350 ton.

Volume ekspor tersebut mengalami penaikkan 50% dibandingkan tahun 2016 yang hanya 200 ton.Melesatnya pertumbuhan ekspor benih kangkung, aku Glenn, diakui disebabkan perubahan iklim yang mengakibatkan banjir di Thailand.

"Tahun ini (2017 red) agak spesial,karena Thailand banjir.Sekarang di cek Thailand, benih kangkung kosong.Makanya permintaan cukup besar," ujar Glenn kepada wartawan disela pelepasan 50 ton dari total 710 ton  benih kangkung untuk diekspor hingga Maret 2018, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (21/12/2017).

Namun Glenn menambahkan adanya perubahan iklim juga membawa dampak positif bagi usaha agribisnis di Indonesia. Menurut Glenn faktor budidaya benih di Indonesia dinilai masih efisien sehingga produksi dapat dioptimalkan. "Biaya buruh di China saja sudah sangat mahal," kata Glenn.

Selain kangkung, sambung Glenn Ewindo telah berhasil melakukan ekspor untuk 19 crop tanaman diantaranya kacang panjang, paria, labu dan mentimun. Total ekspor hingga akhir 2017 diperkirakan mencapai 450 ton atau melebihi target awal sebesar 200 ton.

Ewindo menargetkan ekspor benih sayur mayur tahun 2018 sebesar 10%. Sementara negara tujuan ekspor benih sayuran lainnya seperti Singapura, Filipina, Vietnam, Hongkong, India dan Malaysia.

Glenn mengatakan ekspor ini merupakan salah satu wujud keseriusan Ewindo dalam mendukung pemerintah untuk mewujudkan kemajuan sektor hortikultura nasional, khususnya sayuran.Dalam memproduksi benih ini, Ewindo juga melakukan penelitian dan penemuan benih berkualitas serta pembinaan kepada petani produksi benih.

Glenn menerangkan petani tidak hanya diperkenalkan dengan varietas unggul, tetapi juga  budidaya untuk menghasilkan benih berkualitas yang diakui internasional. Glenn mencontohkan masyarakat Jepang justru menyenangi kangkung ketika masih berbentuk kecambah (tanaman yang baru tumbuh dari biji kacang red).

Glenn menegaskan tulang punggung ekspor benih sayuran itu adalah riset dan pembinaan terhadap petani secara berkelanjutan. Untuk ekspor benih kangkung ini saja, terdapat ribuan petani yang dilibatkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur seperti Kabupaten Jombang dan Gresik.

"Dari sekitar 700 ton itu kira-kira lahannya 700 hektare. Apabila  1 hektare terdapat dua  petani, berarti ada sekitar 1.400- 1.500 petani yang menanam," ujar Glenn.

Kesempatan sama, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mengatakan pola makan masyarakat Jepang yang memakan langsung berbentuk kecambah, bukan produk kangkung dari produk benih Ewindo menjadi bukti benih yang dihasilkan menandakan telah memenuhi persyaratan sanitari dan keamanan pangan.Ini menjadi gambaran bahwa kualitas benih petani Indonesia diakui di dunia internasional.

Sebagai industri benih, kemitraan antara perusahaan dan petani yang saling menguntungkan ini selaras dengan program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan kemitraan ini produksi benih petani dapat langsung diserap perusahaan dan ada kontraknya."Disisi lain perusahaan akan mendapatkan pasokan secara berkelanjutan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: