Tingkatkan kesejahteraan petani, PJB UP Paiton berdayakan pertanian organik

Kamis, 14 Desember 2017 | 00:04 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sebagai upaya untuk mempercepat proses perubahan perilaku para petani untuk menerapkan pertanian organik, CSR PJB UP Paiton yang berpedoman kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) Nomor 03 Tahun 2014 s PROPER, berinisiatif untuk merancang program pertanian organik yang inovatif dan memberi manfaat bagi petani.

Pemerapam metode pertanian organik wilayah kecamatan Paiton sudah mulai dilakukan oleh oleh seorang petani bernama Abdul Nasir secara otodidak. Didorong oleh tingginya harga pupuk konvensional akibat kelangkaan yang terjadi di tahun 2008, Abdul Nasir mulai membuat pupuk dari kotoran ternak yang juga belum terkelola dan termanfaatkan dengan baik.

Upaya dan semangat Abdul Nasir juga didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo dengan penyelenggaraan pelatihan pertanian organik bersamaan dengan petani lainnyatl tegasnya. Untuk itu, brsama-sama dengan para petani, pemerintah daerah melalui dinas-dinas terkait dan juga LSM setempat, PJB UP Paiton telah menyusun rencana strategis Program Organic Integrated System (OIS).

“Program OIS hadir sebagai alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Program OIS memiliki beberapa kegiatan, yaitu Lembaga Pusat Pelatihan Pertanian Tri Karya Jadi sebagai sarana diseminasi ilmu pertanian organik, Produksi Pupuk dan pestisida Organik, serta pendampingan penerapan pertanian organik. Semua kegiatan tersebut saling mengisi dan terintegrasi,” ujar Direktur Utama PT PJB Iwan Agung Firstantara, Surabaya, Rabu (13/12/2017).

Melalui upaya ini, ia berharap tingkat kesejahteraan petani akan semakin membaik. Hal tersebut diraih melalui upaya penurunan biaya produksi petani dengan penggunaan pupuk organik, peningkatan wawasan petani mengenai metode pertanian berkelanjutan, merubah perilaku petani yang tergantungan terhadap pupuk kimia menjadi menggunakan pupuk organik yang juga dapat menjaga kualitas tanah dan lebih ramah lingkungan.

Dijelaskannya, dalam paksanaannya, penerapan sistem pertanian organik ini tidak mudah. Apalagi penerapan sistem pertanian organik ini tidak serta merta diterima oleh semua masyarakat di wilayah Kecamatan Paiton. Bahkan petani pada  umumnya merasa pesimis dengan sistem ini sebab proses yang dilakukan membutuhkan waktu yang lama.

“Ditambah, kian tahun serangan hama semakin ekstrim dikarenakan perubahan iklim yang terjadi secara terus menerus. Selain hasil, masyarakat terbiasa dengan skema pupuk subsidi yang memudahkan pekerjaan mereka,” ujarnya.

CSR PJB UP Paiton bersama Abdul Nasir dan kelompoknya tentu tidak menyerah begitu saja. Karena dirasa sosialisasi yang dilakukan tidak efektif, diciptakan lahan percontohan penerapan pertanian organik seluas 1 Ha pada tahun 2014. Eksperimen tersebut ternyata mendapatkan hasil yang luar biasa. Panen yang sebelumnya hanya menghasilkan 6 ton per heltar mampu ditingkatkan menjadi 11,4 ton per hektar.

Kesuksesan ini kemudian ditawarkan kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Terdapat perubahan animo petani lain tentang penerapan sistem pertanian organik. Pada tahun berikutnya, Program OIS mampu diterapkan kepada kelompok tani lain untuk ikut serta dan mampu memperluas lahan menjadi 5 Ha. Peningkatan terjadi setiap tahun, hingga 2017, terdapat 19 Ha lahan yang didampingi oleh Abdul Nasir melalui Tri Karya Jadi. Lahan tersebut dimiliki oleh 61 orang petani. Selain jumlah tersebut, terdapat banyak sekali lahan pertanian dan petani yang menjadikan Tri Karya Jadi pendamping untuk menerapkan sistem pertanian organik di lahannya.

Peningkatan hasil panen dan penurunan biaya produksi pertanian atas diterapkannya sistem pertanian organik membuat kesejahteraan petani meningkat. Saat ini anggota kelompok tani memiliki penghasilan perbulan lebih tinggi dari pada UMR Kabupaten Probolinggo dan mulai bisa menyelesaikan permasalahan finansial. Salah satu permasalahan pelik yang dihadapi oleh petani di wilayah Kabupaten Probolinggo adalah ketergatungan mereka terhadap rentenir atau Bank Titil dalam idiom lokal. Ketergantungan ini disebabkan oleh mahalnya biaya produksi dan seringnya mereka mengalami gagal panen karena serangan hama.

“Dengan peningkatan yang didapat, perlahan-lahan ketergantungan tersebut dapat dihilangkan. Petani mulai bisa menyicil tanggungan mereka kepada Bank Titil dan tidak meminjam pada musim tanam berikutny,” pungkas Agung.kbc6

Bagikan artikel ini: