Menperin sebut kontribusi industri mainan ke perekonomian RI tak main-main

Selasa, 5 Desember 2017 | 17:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kinerja industri mainan dalam negeri telah memberikan kontribusi cukup signifikan bagi pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional. Terlebih lagi, industri mainan tergolong sektor padat karya yang berorientasi ekspor.

Hal itu dikatakan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto melalui keterangan resminya, Senin (4/12/2017). “Kami sampaikan bahwa ekspor komoditas mainan sampai dengan bulan September tahun 2017 ini mencapai USD228,39 juta atau naik sebesar 8,97% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 (YoY) sebesar USD209,59 juta,” katanya.

 

Selanjutnya, penyerapan tenaga kerja di sektor industri mainan sebanyak 23.116 orang dengan nilai investasi pada tahun 2016 sebesar USD14,76 juta dan sampai triwulan III/2017 telah mencapai USD9,52 juta.

 

“Aktivitas industri yang konsisten membawa dampak yang luas bagi perekonomian nasional. Multiplier effects tersebut antara lain peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor,” papar Airlangga.

Karena itu, Menperin mengungkapkan, pihaknya tengah mengusulkan suatu skema insentif baru bagi industri nasional agar kinerjanya semakin produktif dan berdaya saing di tingkat global. Salah satunya untuk industri padat karya berorientasi ekspor, yang akan diberikan fasilitas berupa pengurangan pajak melalui penghitungan berbasis kepada jumlah penyerapan tenaga kerjanya.

 

"Misalnya, mereka mempekerjakan sebanyak 1.000, 3.000 atau di atas 5.000 tenaga kerja. Itu kami akan berikan scheme tax allowance tersendiri. Ini yang sedang kami bahas dengan Kementerian Keuangan," ungkapnya.

 

Di bagian lain, Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, pemerintah juga berupaya melindungi produk dan pasar dalam negeri serta menghindari gempuran produk impor yang tidak berkualitas melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut Sigit, penerapan SNI mampu meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Selain itu, memberikan jaminan terhadap produk yang masuk ke pasar domestik merupakan yang berkualitas dan aman bagi konsumen serta menembus pasar ekspor.  

“Standar produk merupakan technical barrier yang dapat diterima oleh seluruh negara, karena memberikan efek positif, antara lain menjamin keamanan, keselamatan dan kualitas produk,” pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: