Industri TI bakal melesat 30% di 2010

Selasa, 15 Desember 2009 | 11:16 WIB ET
Pameran produk-produk berbasis TI (dok. kabarbisnis.com)
Pameran produk-produk berbasis TI (dok. kabarbisnis.com)

Penetrasi pasar masih kurang dari 5%

SURABAYA - Industri berbasis teknologi informasi (TI) diperkirakan akan terus mengalami petumbuhan yang cukup baik. Di tahun 2010, diperkirakan laju industri tersebut akan mencapai 30% lebih.

Ketua Umum Asisiasi Pengusaha Kompute Indonesia (APKOMINDO) Suhanda Wijaya mengatakan bahwa dengan semakin terjangkaunya harga produk TI di pasar domestik membuat industri ini semakin berkembang.

"Karena harga semakin terjangkau, maka penetrasi pasar semakin besar. Dan kami memperkirakan, tahun depan, industri TI akan mengalami pertumbuhan positif lebih dari 30% dari tahun 2009 yang hanya mencapai sekitar 25%," kata Suhanda Wijaya saat dihubungi kabarbisnis.com, Selasa (15/12/09).

Dikatakan Suhanda, selain harga yang mulai terjangkau, saat ini pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan (Diknas) gencar menggalakkan program melek TI dengan memasukkan komputer sebagai kurikulum tambahan di setiap jenjang pendidikan. Mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Umum (SMU).

Seiring dengan gerakan melek TI tersebut, maka industri TI menjadi terangkat. Meski secara prosentasi, Suhanda mengakui penetrasi pasar TI di tanah air masih jauh dari yang diharapkan.

"Penetrasi pasar TI di tanah air hingga saat ini masih kurang dari 5%. Ini karena pendapatan per kapita masyarakat Indonesia tidak merata," akunya.

Akibatnya, harga mahal menjadi sebuah kendala untuk memiliki sebuah komputer. Selain itu, keterbatasan inftastruktur di daerah terpencil juga menjadi kendala yang cukup serius. Sebab karena minimnya akses internet di daerah terpencil misalnya, maka kebutuhan komputer menjadi terbatas.

"Kami juga mengharapkan regulasi yang ditetapkan pemerintah berpihak pada peningkatan pertumbuhan industri kecil TI. Sebab masih ada kebijakan pemerintah yang tidak pro UKM TI," katanya.

Suhanda mencontohkan, Peraturan Menteri Perindustrian tentang Tanda Daftar Industri (TDI) yang diharuskan bagi kalangan usaha mikro kecil dan menengah TI. Dalam peraturan tersebut, UMKM TI yang memiliki modal Rp5 juta hingga Rp200 juta yang melakukan perakitan komputer misalnya, harus memiliki TDI. Padahal bisa dibayangkan, jika UMKM TI dengan modal Rp5 juta tersebut hanya mampu merakit satu higga dua unit komputer saja.

"Jika mereka diwajibkan mengurus TDI dengan biaya yang cukup besar, bisa dipastikan akan mati. Dan hal berarti tidak pro UMKM TI," ujarnya. kbc6

Bagikan artikel ini: