Stok menipis bikin harga CPO terkerek

Senin, 13 November 2017 | 20:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengungkapkan, menipisnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia dalam beberapa waktu terakhir telah mengerek harga CPO global.

Sepanjang September 2017, harga harian CPO global tercatat bergerak di kisaran US$687.50 hingga US$760 per metrik ton, dengan harga rata-rata US$724.9 per metrik ton. Harga rata-rata ini meningkat 7% dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu US$676 per metrik ton. Sementara itu, produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan PKO) sepanjang September 2017 menembus 4 juta ton.

"Angka ini merupakan angka produksi tertinggi sepanjang tahun 2017 dan peningkatan produksi ini merupakan siklus panen raya tahunan,"ujar Fadhil di Jakarta, Senin (13/11/2017).

Sepanjang September 2017, produksi minyak sawit Indonesia tercatat 4,03 juta ton atau naik 2% dibandingkan Agustus 2017 yang berada di angka 3,95 juta ton. "Meskipun produksi minyak sawit Indonesia sedang mencapai puncak tertinggi, stok minyak sawit di dalam negeri tidak meningkat secara signifikan karena masih tingginya permintaan pasar global," tuturnya.

Fadhil mengungkapkan, stok CPO pada bulan September 2017 ini tercatat berjumlah 2,92 juta ton atau naik 8,5% dibandingkan dengan bulan Agustus hanya sebesar 2,69 juta ton. Geliat pasar diperkirakan masih akan terus meningkat karena produksi kedelai diperkirakan pada bulan Agustus masih menurun, karena kondisi cuaca kering di Amerika Selatan, dan curah hujan yang tinggi di Brazil, sehingga mengganggu hasil panen.

Dari sisi ekspor, data Gapki menunjukkan, produk minyak sawit Indonesia (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) telah mencapai puncak tertinggi pada Agustus lalu yaitu 2,98 juta ton. Sedangkan pada September, ekspor minyak sawit Indonesia (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) menurun sebesar 7,5% dibandingkan bulan sebelumnya atau hanya mampu mencapai 2,76 juta ton.

Meskipun demikian, angka ekspor ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan tren ekspor sepanjang tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa pasar minyak sawit masih terus bergeliat karena kurangnya pasokan dari minyak nabati lainnya di pasar global.

Menurut Fadhil negara India dan China saat masih terus mengisi stok minyak nabati di dalam negerinya yang mulai menipis. Kendati demikian pada September lalu tercatat adanya penurunan permintaan dari China dan India masing-masing 17,5% dan 17%.

Namun secara volume, impor kedua negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia itu terbilang masih tinggi. Masing-masing, rata-rata mencatatkan permintaan sebesar 370.4700 ton dan 650.7500 ton pada September lalu.

"Di lain pihak, beberapa negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia mencatatkan peningkatan permintaan pada bulan September yang cukup tinggi, antara lain negara-negara Timur Tengah dan Pakistan yang masing-masing kenaikannya 26 persen dan 9 persen. Sementara itu negara-negara Uni Eropa hanya membukukan kenaikan permintaan pada September sebesar 1 persen," tuturnya.

Di sektor biodiesel, serapan biodiesel di dalam negeri pada September meningkat 7%, dari 210 ribu ton di Agustus, naik menjadi 225.000 ton. "Dengan serapan biodiesel yang konsisten dapat disimpulkan mandatori biodiesel Indonesia telah berjalan dengan baik," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: