Cukai dikerek 10,04%, ini dampaknya bagi industri rokok

Selasa, 24 Oktober 2017 | 19:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rencana pemerintah menaikkan cukai rokok tahun 2018 sebesar 10,04% mendapat penolakan dari pelaku industri. Cara tersebut diyakini akan berdampak negatif terhadap kelangsungan industri rokok nasional.

Ketua Umum  Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Ismanu Sumiran mengkhawatirkan apabila pemerintah tetap memaksakan kenaikan  tarif cukai sebesar 10,04% maka jumlah pabrik rokok yang beroperasi semakin menurun.Dalam catatannya tahun 1989, terdapat 5.000 pabrik rokok yang beroperasi.

Namun dalam lima tahun terakhir jumlahnya tinggal menyisakan 600 perusahaan saja."Itu pun hanya 100 an pabrik rokok yang masih aktif berproduksi,"ujar Ismanu kepada wartawan di Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Ismanu meyakini penyusutan jumlah pabrikan sangat terkait dengan keputusan pemerintah yang tiap tahunnya menaikkan tarif cukai.Menurutnya cara tersebut gilirannya akan berdampak pada  serapan tenaga kerja yang semakin berkurang. Perusahaan hanya memiliki opsi untuk menyeimbangkan kondisi ini hanya dengan menaikkan harga.

Namun pihaknya  belum dapat memberikan kepastian berapa potensi kenaikan yang dianggap wajar."Dengan kenaikan cukai maka akan ada kenaikan harga, kalau harga naik maka produksi kami akan turun 2-3 persen di tahun depan," kata Ismanu.

Dia berharap agar rencana pemerintah tersebut dibatalkan. Kalaupun ada kenaikan diharapkan tidak terlalu tinggi atau hanya satu digit. Sebab berbagai tekanan baik eksternal maupun internal di industri rokok masih begitu besar.

"Selain faktor daya beli yang cenderung turun, kita juga saat ini dihadapkan pada jumlah kenaikan importasi rokok ilegal, rokok ilegal itu yang tidak bercukai atau ada pita cukainya tapi diduga palsu," lanjutnya.

Ismanu menambahkan selama ini industri rokok sudah sangat patuh aturan pemerintah. Sehingga perlu ada keberpihakan pemerintah terhadap industri rokok yang memang selama ini menjadi salah satu penopang utama  pendapatan negara.

Sampai September 2017 jumlah produksi rokok (CK-1 berdasarkan jumlah permintaan pita cukai) sekitar 237 miliar batang. Padahal targetnya produksi 2017 sebesar 342 miliar atau hanya baru tercapai sekitar 69,29%.

Ismanu juga menambahkan isu kenaikan cukai ini akan berdampak terhadap produksi rokok nasional. Dia berharap ada relaksasi dari pemerintah atas kebijakan yang dianggap sangat memberatkan pelaku industri. "Untuk tahun 2018 kalau bisa sama saja sudah bagus (jumlah produksi dengan 2017 red ), tapi tampaknya pesimistis, kami melihat ini akan sangat sulit," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: