Gerakan tanam massif angkat penjualan benih cabai East West 35%

Jum'at, 13 Oktober 2017 | 21:49 WIB ET

BANDUNG BARAT, kabarbisnis.com: Produsen hortikultura hibrida tropis PT East West Seed Indonesia (Ewindo) membubuhkan kenaikan penjualan benih cabai hingga 35% menyusul upaya pemerintah menggenjot produksi cabai nasional.

Direktur Marketing dan Penjualan Ewindo Afrizal Gindow menyatakan perusahaan menguasai pangsa pasar benih cabai hingga 80%. Lazimnya,  penjualan benih cabai hibrida mengambil porsi  20% total penjualan .

"Namun, sejalan upaya Kementerian Pertanian melakukan perluasan areal tanam baru ikut mendongkrak penjualanan benih cabai hampir mencapai 35%," ujar Afrizal menjawab kabarbisnis.com melalui pesan WhatsApp di sela rangkaian Lokakarya Dukungan Perbenihan dan Perbibitan dalam Pembangunan Pertanian di Purwakarta dan Bandung Barat, Kamis-Jumat (12-13/10/2017).

Meski program pemerintah tersebut memberi andil terhadap kenaikan penjualan benih cabai, namun Afrizal melihat bukan serta merta pemerintah mengarahkan petani menggunakan merk tertentu. Petani dibebaskan memilih benih cabai buatan pabrikan lainnya.

Produsen hortikultura sejenis seperti BISI, Tanindo dan Badan Usaha Milik Negara Sang Hyang Seri juga meramaikan pasar benih cabai hibrida. Tanpa program pemerintah menurut Afrizal petani sudah mengenal baik produk benihnya.

Hal ini, kata Afrizal, tidak terlepas dari upaya Ewindo secara intensif memberikan pendampingan teknik budidaya  kepada petani .Setidaknya 150 petugas teknis diterjunkan kesejumlah sentra tanaman cabai.Selain memudahkan akses, petani dapat meyakini benih unggul yang digunakan memberikan hasil maksimal.

Pada 2017, ewindo telah meluncurkan varietas cabai besar BAJA F1 yang memiliki keunggulan tahan terhadap serangan virus Gemini dan memiliki kemampuan produksi lebih tinggi rerata 25% dibandingkan varietas lainnya.Sebelumnya ewindo telah merilis varieras unggul yang sebagian besar toleran terhadap perubahan iklim ekstem seperti cabai rawit DEWATA F1 dan cabai keriting KRIDA F1.

Asal tau saja, catatan Ditjen Hortikultura menetapkan sasaran produksi cabai besar dan rawit tahun 2017 sebesar 2.196.657 ton . Sasaran produksi dicapai melalui perluasan areal tanam baru dikawasan penyangga dan gerakan tanam massif seluas 180.000 hektare (ha) . Komoditas cabai mendapat perhatian khusus pemerintah karena memberikan kontribusi terhadap kenaikan angka inflasi.

Selain benih cabai, sambung Afrizal benih jagung manis memberikan kontribusi 27% . Menurutnya petani menyukai menanam jagung manis karena margin yang menarik. Pendapatan yang diperoleh petani Rp 1.500 per kilogram (kg), padahal biaya produksi hanya Rp 800 per kg.

Benih sayur hortikultura yang juga memiliki prospek besar adalah benih tomat dataran rendah dan oyong.Sementara melon dan semangka merupakan benih buah-buahan yang permintaan pasarnya kian meningkat .

Tahun  2017 ini, perusahaan menggejar pertumbuhan penjualan 10 % atau setara 500 ton.Adapun tahun 2016 lau, ewindo mencatat penjualan sebesar 5.000 ton. Kendati begitu, perusahaan tetap mengantisipasi potensi penurunan penjualan di triwulan ke III sehubungan belum turunnya hujan membuat aktivitas penanaman belum merata.

Dikatakan profil bisnis hortikultura sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Ewindo pun sempat mengalami pertumbuhan sebesar tiga persen menyusul terjadinya fenomena kemarau panjang El Nino di tahun 2015.

Adapun tahun 2016, penjualan benih kembali pulih dengan volume sebesar 5.000 ton.Ewindo menguasai 43 % pangsa pasar dengan merilis 150 varietas benih ungggul yang sudah tersertifikasi. Untuk nilai pasar benih hortikultura nasional saat ini  ditaksir mencapai Rp 1,4-1,6 triliun per tahun. kbc11

Bagikan artikel ini: