Dinilai tak rasional, AMTI tolak rencana kenaikan cukai rokok hingga 8,9 persen di 2018

Jum'at, 29 September 2017 | 20:22 WIB ET

SURABAYA kabarbisnis.com: Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyatakan penolakannya atas rencana kenaikan cukai tembakau atau rokok di tahun depan hingga 8,9 persen. Kebijakan tersebut dinilai tidak masuk akanl dan tidak berpihak kepada industri pertembakauan dalam negeri.

“Ini tidak rasional dan membebani industri rokok. Terlebih perekonomian Indonesia saat ini belum menunjukkan gejala peningkatan signifikan,” ujar Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Budidoyo, di Surabaya, Jumat (29/9/2017).

Ia menegaskan, kebijakan cukai harusnya rasional dengan mempertimbangkan kelangsungan bisnis industri tembakau. Sementara saat ini Industri hasil tembakau dalam keadaan terpuruk. Volume produksi terus menurun setiap tahunnya. Di 2016, volume produksi sudah turun sebanyak 6 miliar batang. Hingga petengahan tahun 2017, volume itu turun hingga 5,4 miliar batang, dan diprediksi akan terus turun hingga 11 miliar batang sampai akhir tahun. Dan di tahun 2018, diperkirakan volume produksi juga akan turun hingga 10 miliar batang. “Kami yakin pemerintah sudah mengerti kalau industri rokok dalam fase penurunan. Kenapa tarif cukainya masih dibuat tinggi? Ini sama dengan tidak ada peluang bagi industri hasil tembakau untuk hidup," ujarnya.

Budidoyo menjelaskan, pada 2017, tarif cukai berlaku sebesar 10.5 %. Tarif itu menyebabkan volume industri rokok anjlok hingga 2 %. Rencana kenaikan cukai 8,9 % untuk tahun 2018 dirasa masih memberatkan karena industri hasil tembakau saat ini dalam keadaan terpuruk.

Unuk itu, Budidoyo meminta agar pemerintah tidak hanya bergantung pada cukai tembakau sebagai sumber penerimaan cukai, terutama di tengah lesunya kondisi industri tembakau tahun ini. Perlu diingat, kata Budidoyo, industri tembakau merupakan industri padat karya yang melibatkan jutaan orang dari hulu hingga hilir. Apalagi rantai industri hasil tembakau sangatlah panjang, karena tidak semata hanya melibatkan pabrikan rokok saja.

"Jika industri rokok mengalami penurunan, maka yang akan terkena dampaknya bukan cuma pabrikan, tapi juga pekerja di pabrik rokok, petani cengkeh, dan petani tembakau yang totalnya mencapai lebih dari 6 juta orang," tegasnya.

Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret-Kretek Indonesia (MPSI), Djoko Wahyudi, juga menyatakan tidak setuju dengan tingginya cukai rokok yang bakal dikenakan untuk tahun depan.vkarena hal itu akan menyebabkan kolapsnya industri rokok yang berakibat pada perumahan dan PHK pekerja rokok. Bila itu terjadi, maka target pemerintah untuk cukai rokok tak bakal terpenuhi.  "Industri rokok akan merumahkan karyawannya karena rokok tak laku. Target pemerintah untuk penerimaan dari cukai rokok pun tak terpenuhi," kata Djoko.

Tahun 2017, pemerintah menetapkan tarif cukai rokok sebesar 10,5 % dengan target penerimaan cukai rokok Rp 147,5 triliun. Di tahun 2018, tarif cukai direncanakan ditetapkan tak sebesar tahun lalu yakni 8,9 %. Sementara target penerimaan cukai sebesar Rp 155,4 triliun yang salah satunya berasal dari cukai rokok sebesar Rp 148,2 triliun. Target itu naik 0,5 % dari target tahun lalu.kbc6

Bagikan artikel ini: