Kemendag amankan 21,3 ton gula rafinasi ilegal dan 47,9 ton daging beku kadaluarsa

Kamis, 28 September 2017 | 20:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perdagangan (Kemendag) berhasil mengamankan gula krital rafinasi (GKR) yang terbukti merembes ke pasar sebanyak 21,3 ton dan daging beku kadaluarsa sebanyak 47,9 ton.

Barang bukti tersebut didapatkan dari tiga distributor industri makanan minuman (mamin) yang tertangkap tangan mendistribusikan GKR ke pasar rakyat, dan satu perusahaan yang masih menjual daging beku kadaluarsa.

Sekretaris Jenderal Kemendag Karyanto Suprih mengatakan barang sitaan tersebut secara simbolis dimusnahkan secara langsung Kemendag. Sedangkan sisanya akan dimusnahkan oleh pelaku usaha sendiri yang diawasi langsung oleh petugas dari Kemendag dan pihak terkait lainnya.

"Ini adalah bentuk hasil pemeriksanan hasil pengawasan PPNS (penyidik pegawai negeri sipil ) di ditjen PKTN (Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga), sekaligus pesan bagi pelaku usaha bahwa jangalah main - main dengan aturan yang sudah ditetapkan," kata Karyanto usai melakukan pemusnahan di halaman Kemendag, Kamis (28/9/2017).

Karyanto mengatakan hasil temuan ini merupakan hasil pengawasan sepanjang semester I 2017. Pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan peredaran produk yang tidak sesuai peruntukannya dan yang sudah kadaluarsa demi melindungi konsumen.

Terkait dengan sanksi yang akan dijatuhkan ke perusahaan tersebut, Karyanto mengatakan akan mengikuti pedoman dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Untuk Industri Mamin yang berada di kawasan Ciawi Bogor dipastikan akan diblacklist dan dipastikan tidak akan lagi mendapat izin impor GKR.

Sementara untuk perusahaan pengedar daging kadaluarsa masih akan di dalami modusnya. Untuk sementara ini produk daging beku diwajibkan untuk dimusnahkan dan dilarang beredar.

"Untuk pelaku pembocoran (GKR) ini kan dari industri mamin jadi tidak disuplai lagi, distop karena dia telah membocorkan gula rafiunasi yang tidak boleh beredar yang harusnya dikhususkan untuk industri," terangnya.

Kesempatan sama Direktur Jenderal PKTN Syahrul Mamma menambahkan pengawasan intensif akan terus dilakukan dengan menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan, Kepolisian dan pihak lainnya.

Dia berharap paska penemuan ini para pelaku usaha dapat menjadikannya sebagai pelajaran sehingga tidak ada lagi kejadian serupa. Terkait jangka waktu sanksi penyetopan impor GKR dan daging, Syahrul mengatakan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

"Kita melalui tim Pengawasan dan Tertib Niaga akan terus melakukan pengawasan terhadap kegiatan perdagangan untuk menegakkan aturan yang berlaku dan akan memberikan sanksi yang tegas bagi siapapun yang melanggar," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: