Besar, potensi produksi kayu jati di Indonesia

Rabu, 27 September 2017 | 08:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia memiliki potensi hasil kayu jati yang cukup besar, sebagai upaya menjaga kelestarian hutan di Tanah Air. Untuk keberadaan kayu bersertifikat sangat penting.

"Perhutani mengacu pada standar Forest Stewardship Council (FSC)," kata Direktur Keuangan Perum Perhutani Sugiarti, Senin (25/9/2017).

Catatan dari FSC sebagaimana disampaikan dalam kesempatan itu oleh Indra Setia Dewi dari FSC Indonesia menunjukkan hasil studi komprehensif FSC pada 2015 menunjukkan bahwa sekitar 300 juta meter kubik kayu bersertifikasi FSC-Forest Management (FM)/ (Chain of Custody) CoC dipanen setiap tahun. Sampai dengan September 2017, terdapat 197.817.395 hektar hutan bersertifikat FSC-FM/CoC di dunia termasuk Indonesia.

Lantas, sepanjang 2016, total produksi Perum Perhutani yang bersertifikat FSC-FM/CoC mencapai 120.000 meter kubik. Dari jumlah itu, 100.000 meter kubik adalah kayu jati dan 20.000 meter kubik adalah kayu rimba.

Sampai dengan Agustus 2017, Perum Perhutani menghasilkan kayu bersertifikasi  sebanyak 101.000 meter kubik yang terdiri dari 91.000 meter kubik kayu jati dan 10.000 kayu rimba seperti mahoni, sonokeling, johar, akasia, trembesi, sengon, dan gmelina.

Berangkat dari data itu, Sugiarti mengatakan bahwa pelestarian hutan berawal dari penggunaan produk-produk yang jelas berasal dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan dan dan memberi manfaat sosial bagi masyarakat.

Sementara itu, sejak Senin hingga sepekan ke depan, FSC Indonesia dan Perum Perhutani mengadakan kegiatan Indonesia FSC Week 2017. Tema yang diangkat pada acara kali ini adalah Peduli Hutan Berawal dari Rumah. Kegiatan ini, imbuh Indra Setia Dewi juga menjadi ajang memperkenalkan kepada masyarakat banyak tentang FSC bagi kelestarian hutan Indonesia.

Indra Setia Budi menjawab pertanyaan Kompas.com mengakui bahwa belum banyak masyarakat Indonesia paham mengenai FSC dan seluk-beluknya. "Awareness-nya kira-kira baru 10 persen dari penduduk Jabodetabek," kata Indra Setia Budi.

Per 2014, sebagaimana dikutip dari detik.com, jumlah penduduk Jabodetabek menyentuh angka 30 juta jiwa. Jabodetabek berada di peringkat dua dalam jumlah penduduk kota megapolitan. Di peringkat pertama ada dua kota dengan jumlah penduduk masing-masing sekitar 37 juta jiwa yakni Tokyo dan Yokohama.  

Pada Rabu (27/9/2017), masih dalam rangkaian acara, diadakan peresmian program dropbox untuk kemasan karton minuman bekas atau disebut used beverage cartons (UBC) di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta. Program UBC sejatinya sudah diinisasi oleh perusahaan penanaman modal asing (PMA) untuk kemasan, Tetra Pak. Tahun ini, UBC oleh KLHK dijadikan pilot percontohan. kbc10

Bagikan artikel ini: