La Nyalla imbau pengusaha Jatim waspadai lonjakan impor 7 komoditas

Senin, 25 September 2017 | 18:36 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengimbau kepada pengusaha di Jatim untuk waspada atas kenaikan volume impor tujuh komoditas yang siginifikan dengan rata-rata kenaikan sebesar 44 persen selama tiga tahun terakhir. Ketujuh komoditas yang masuk data peringatan dini (early warning system) tersebut adalah udang windu dan udang vaname, pati ubi kayu, biskuit, sepatu olah raga, ubin keramik,serta ketel listrik.

Secara nasional, impor komoditas udang windu misalnya, sejak 2014 hingga 2016 mengalami kenaikan sebesar 44 persen. Pada 2014, impor udang windu mencapai US$ 2,13 juta dengan volume 157,53 ton, lalu pada 2016 naik menjadi 3,104 juta dengan volume 326,02 ton. Kenaikan yang sama juga dialami oleh impor komoditas ubi kayu.

“Untuk pengusaha di Jatim, bahwa dari data peringatan dini yang ada di BPS adalah adanya peningkatan produk impor yang cukup tajam masuk ke Jatim antara lain udang windu dan udang vaname, pati ubi kayu, biskuit, sepatu olah raga, ubin keramik serta ketel listrik," ujar La Nyalla saat acara sosialisasi tindakan pengamanan perdagangan (Safeguards) bersama Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) di Surabaya, Senin (25/9/2017).

La Nyalla berharap para pengusaha bisa berpartisipasi aktif dalam forum bersama KPPI tersebut untuk melindungi industri dalam negeri dari serbuan barang impor. Hadir dalam kesempatan tersebut, puluhan pengusaha Jatim, Ketua Kadin Surabaya, Kadin Pasuruan, Lamongan, Kediri, asosiasi persepatuan, asosiasi tekstil, perusahaan perikanan, perusahan besi dan baja, serta perguruan tinggi negeri dan swasta.

Sinergi KPPI dengan Kadin Jatim, kata La Nyalla, telah berjalan cukup lama guna terus menyosialisasikan dan meningkatkan pemahaman serta pemanfaatan keberadaan KPPI dalam upaya melindungi produsen dalam negeri dari dampak negatif pasar bebas berupa tindakan pengamanan perdagangan (safeguards).

“Telah banyak komoditi atau barang yang terancam maupun yang telah mengalami kerugian serius akibat lonjakan impor barang sejenis berhasil dilindungi dengan instrumen bea masuk melalui PerMenKeu, sehingga kami harapkan dengan terus melakukan sosialisasi ini pemanfaatan keberadaan KPPI akan semakin optimal dan ketahanan industri serta keberlangsungan produsen dalam negeri lebih terjamin,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua KPPI Mardjoko mengatakan, saat ini pasar dalam negeri memang telah dibanjiri produk impor. Untuk itu, Kementerian Perdagangan melalui KPPI terus melakukan sosialisasi kepada pengusaha tentang mekanisme safeguards sebagai perlindungan bagi industri dalam negeri.

Dan sejauh ini safeguards dengan penerapan bea masuk tindakan pengamanan atau BMTP menjadi instrumen paling banyak digunakan pengusaha dibanding anti dumping ataupun subsidi. Hal ini karena dengan BMTP, akan secara cepat bisa melindungi industri  dalam negeri dari lonjakan impor barang atau produk yang sama. Selain itu persyaratan juga lebih mudah dan tidak rumit.

“Jika ada terjadi lonjakan impor minimal 3 persen dalam kurun waktu tiga tahun berturut-turut dan berpotensi merugikan industri dalam negeri, maka pengusaha sudah bisa mengajukan tindakan safeguard dengan memberlakukan BMTP sementara yang berlaku selama 200 hari. Dengan memberikan BMTP berarti berikan waktu bagi industri dalam negeri untuk berbenah,” pungkasnya. kbc6

Bagikan artikel ini: