Pameran manufaktur digelar di Surabaya, Ekonomi KTI diharapkan bisa terakselerasi

Rabu, 19 Juli 2017 | 20:32 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Penyelenggara pameran, PT Pamerindo Indonesia kembali menggelar pameran Manufacturing Surabaya 2017 yang memamerkan alat-alat industri terkini dari 260 perusahaan yang berasal dari 20 negara berbeda.

Project Director PT Pamerindo Indonesia, Maysia Stephanie, mengatakan pameran yang dilakukan rutin tiap tahun di Surabaya ini membidik industri dan pengusaha manufaktur di wilayah Surabaya dan Kawasan Timur Indonesia (KTI).

“Ini adalah pameran ke-13 yang kami lakukan secara rutin tiap tahun di Surabaya. Dengan menghadirkan produsen manufaktur terkemuka di dunia, kami berharap pelaku industri manufaktur di Surabaya khususnya dan Indonesia Timur pada umumnya bisa bertumbuh positif,” ujarnya di sela pembukaan Pameran Manufacturing Surabaya 2017 di Grand City Convex, Rabu (19/7/2017). Pameran Manufacturing Surabaya 2017 ini diselenggarakan pada tanggal 19-22 Juli 2017.

Wakil Ketua Umum Kadin Kawasan Timur Indonesia, Andi Rukman Karumpa, menambahkan perkembangan KTl saat ini sangat positif, khususnya dari sisi pembangunan infrastruktur yang akan berdampak pada lajunya perkembangan industri skala besar, menengah dan kecil.

“Untuk industri manufaktur skala besar saya rasa masih menunggu terobosan, namun untuk saat ini prospek untuk industri manufaktur menengah dan kecil sangatlah besar,” terang Andi.

Selain pembangunan infrastruktur perhubungan, menurut Andi hal lain yangjuga tidak kalah penting adalah infrastruktur listrik. Ia mengatakan juka ingin pertumbuhan ekonoi 5-6 %, butuh tambahan suplai listrik 5.000 hingga 6.000 megawatt. “Sedangkan kita baru sanggup di angka 3.000 mega watt per tahun," ujarnya.

Pada 2016 lalu, realisasi investasi di Indonesia Timur mencapai Rp 119,3 triliun dari rencana awal sebesar Rp 119 triliun. Namun begitu, Andi optimis perkembangan sentra industri KTI mampu menyerap investasi diatas 14% atau sekitar Rp 200 sampai Rp 220 triliun.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dalam kesempatan yang sama mendorong pelaku usaha kecil meningkatkan kemampuan penggunaan teknologi manufaktur dalam proses produksi. Ini diperlukan untuk menghasilkan produk yang efisien sehingga bisa bersaing dengan pasar global.

“Saat ini perekonomian sedang melambat, tidak hanya skala regional dan nasional, tapi juga global. Karenanya pameran yang banyak menawarkan produk teknologi terbaru ini mampu memicu pertumbuhan ekonomi. Dengan teknologi terbaru, tentu akan lebih efisien sehingga produk bisa lebih kompetitif,” ujarnya.

Gus Ipul, panggailan akrab Saifullah Yusuf, menambahkan salah satu sektor yang harus didorong di Jatim yakni usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menyerap bvanyak tenaga kerja. “Kami terus mendorong UMKM di Jatim maju. Salah satunya dengan meningkatkan adopsi teknologi terbaru,” terangnya.

Gus Ipul mengaku terus berupaya agar investasi di Jatim terus meningkat. Salah satunya dengan mendesak agar investor segera mendirikan pabrik di Jatim. Sehingga ada penyerapan tenaga kerja. Saat ini, masalah ada sejumlah investasi asing yang belum merealisasikan investasinya. Salah satunya perusahaan dari China. Hingga awal 2017, ada 82 proyek dari China yang terealisasi, dengan nilai  investasi USD200 juta. Serapan tenaga kerja sekitar 48.000 orang. “Saat ini masih banyak investasi dari China tapi belum terealisasi. Saya harap agar secepatnya bisa direalisasikan,” katanya. kbc8

Bagikan artikel ini: