Daya beli masih rendah, kinerja industri ritel melambat

Selasa, 11 Juli 2017 | 12:36 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kondisi ekonomi yang masih belum stabil menjadikan daya beli masyarakat kian melemah. Akibatnya, mereka menjadi lebih selektif dalam berbelanja dengan memilih barang yang hanya diperlukan saja, bahkan disaat momen puasa dna lebaran kemarin.

Dampak selanjutnya, kinerja industri ritel ikut tergerus. Data total sales hingga pertengahan Juni 2017 kalau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, khusus minimarket mencatat pertumbuhan sebesar 7,8 persen, sedangkan hypermarket justru turun 2,5 persen.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim April Wahyu Widati, pertumbuhan yang terjadi di minimarket lebih disebabkan oleh ekspansi gerai, bukan karena kenaikan penjualan di setiap gerai yang sudah ada.

''Hingga semester pertama ada penambahan sekitar 30 gerai minimarket. Nah itu yang menyumbang terhadap volume sales, jadi bukan murni pertumbuhan sales,'' ungkap April di Surabaya, Selasa (11/7/2017)

Sementara penjualan di saat puasa dan lebaran kemarin juga tidak mengalami kenaikan yang signifikan, bahkan jauh dari ekspektasi. Tahun-tahun sebelumnya kontribusi sales selama Lebaran mencapai 15 persen terhadap total satu tahun. Tapi itu tidak berlaku pada Lebaran tahun ini.

Dengan kondisi demikian, kontribusi penjualan saat lebaran terhadap total satu tahun makin berkurang. Dulu, pendapatab selama lebaran bisa mencapai 15 persen. Sekarang tidak sampai sebesar itu.''Biasanya H-7 Lebaran penjualan bisa naik 30 persen, tahun ini tidak sama sekali. Dan itu terjadi di semua channel ritel modern,'' lanjutnya.

Ia memperkirakan,  rendahnya daya beli masyarakat tersebut disebabkan Lebaran yang bersamaan dengan tahun ajaran baru. Sehingga, konsumen lebih memprioritaskan biaya untuk kebutuhan pendidikan. Selain itu, pola belanja konsumen sejak awal tahun sudah berubah.

''Dulu, konsumen belanja apa sesuai yang diinginkan. Bahkan kalau belanja tidak cukup satu buah, tapi sekarang mereka membeli sesuai yang diperlukan. Customer sangat selektif terhadap pembelian,'' katanya.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan persaingan antar format ritel modern juga makin ketat. Tidak lagi dalam satu kategori usaha saja, tapi sudah lintas format. Ia mencontohkan, persaingan antara hypermarket dengan minimarket. Pada 2-3 tahun lalu, hypermarket bisa menawarkan harga paling kompetitif karena ditunjang besarnya volume barang yang diambil dari pemasok. Kini, sejalan dengan minimarket yang kian ekspansif dengan kebutuhan volume barang meningkat, harganya juga makin kompetitif.

Dan karena target sales Lebaran tidak tercapai, maka untuk mencapai taeget tahun ini peritel mengejar pada momen Natal dan Tahun Baru. ''Minimal pada tahun ini bisa tumbuh 13 persen, sama seperti tahun 2016 lalu. Tapi memang, penjualan pada akhir tahun tidak sebesar Lebaran. Yang jelas, saya yakin semua channel akan mati-matian untuk mengejar sales minimal sama dengan tahun lalu,'' pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: