Industri kertas dihimpit proteksi pasar dan digitalisasi

Senin, 29 Mei 2017 | 04:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri kertas dalam negeri tengah menghadapi tantangan berat untuk meningkatkan penjualan di pasar internasional. Pasalnya, negara tujuan ekspor kertas mulai memproteksi masuknya kertas Indonesia atas tuduhan praktik dumping.

“Persaingan bisnis kertas jadi semakin berat. Negara tujuan ekspor menjadi cenderung lebih proteksionis,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Rusli Tan, Minggu (28/5/2017).

Menurut Rusli, Ameriksa Serikat dan Australia sudah memberlakukan proteksi dengan mengenakan bea masuk antidumping terhadap kertas asal Indonesia. Besaran tarif yang dikenakan 20-70 persen dari nilai produk. “Tentu kami khawatir kalau negara tujuan ekspor lain nantinya mengikuti,” ujar dia.

Badan Pusat Statistik mencatat adanya penurunan pada nilai ekspor kertas pada April 2017 sebesar 1,2 persen. Nilai ekspor kertas pada April senilai US$ 301,7 juta. Bulan sebelumnya, nilai ekspor kertas mampu mencapai US$ 305,5 juta.

Ekspor kertas secara kumulatif periode Januari-April 2017 senilai US$ 1,17 miliar. Nilai ekspor itu masih mencatatkan pertumbuhan 4,9 persen year on year dibanding periode yang sama tahun lalu senilai US$ 1,12 miliar.

Sedangkan nilai ekspor pulp atau bubur kertas pada April 2017 tercatat senilai US$ 144,4 juta, atau merosot 30,2 persen dibandingkan Maret 2017 senilai US$ 207,1 juta. Ekspor pulp secara kumulatif pada periode Januari-April 2017 senilai US$ 614 juta, atau naik 10,7 persen  year on year.

Produsen kertas masih mempertahankan target pertumbuhan produksi sebesar 3 persen dan ekspor sebesar 8 persen pada tahun ini. Industri melihat potensi kenaikan penjualan domestik menjelang Lebaran.

Kenaikan permintaan domestik saat periode tersebut ditopang oleh kenaikan kebutuhan terhadap kertas karton pengemasan makanan.

Rusli menyatakan industri kertas kini pada dasarnya menghadapi dua tantangan utama untuk menggenjot pertumbuhan produksi, yaitu perubahan kondisi pasar internasional dan perkembangan digitalisasi. “Maka sebenarnya yang perlu dilakukan adalah dengan mengefisiensi struktur biaya," jelasnya seperti dikutip dari Bisnis.com.

Permasalahannya, industri kertas bukan sektor industri yang menikmati insentif penetapan harga gas US$ 6 per MMbtu. Menurut Rusli, komponen biaya energi merupakan struktur biaya tertinggi di industri kertas. Penetapan harga gas yang lebih kompetitif di kisaran US$ 3 per MMbtu dia yakini dapat mengefisiensi biaya produksi hingga 20 persen.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto menyatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri pulp and paper karena ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Indonesia merupakan negara pengekspor kertas terbesar keenam di dunia dengan kapasitas produksi kertas nasional sebesar 12,98 juta ton per tahun.

Sedangkan kapasitas terpasang industri pulp diperkirakan naik 30 persen menjadi menembus 10 juta ton per tahun dari 7,93 juta ton pada tahun lalu. Saat ini tercatat 84 perusahaan yang bergerak di subsektor industri pulp and paper di Indonesia. kbc10

Bagikan artikel ini: