AP5I tunggu aturan peniadaan PPN impor mesin pendingin komoditas perikanan

Selasa, 25 April 2017 | 16:02 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo mendesak realisasi aturan penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) impor mesin pendingin komoditas perikanan. Langkah ini dinilai tepat agar percepatan industrialisasi perikanan di Indonesia segera terwujud.

Ia mengatakan, sebenarnya penurunan PPN impor mesin pendingin ikan dari 10% menjadi 0% tersebut sudah disetujui oleh Presiden dengan dikeluarkannya Perpres nomor 3/2017. Namun hingga kini, aturan turunan dari kementerian terkait masih belum ada. Hal ini sangat menghambat industrialisasi perikanan di daerah, sebab pemerintah masih menyamakan PPN impor alat pendingin ikan dengan pendingin elekotronik seperti Air Conditioner (AC).

"Sampai kini aturan itu belum keluar, meski awalnya kami menjelaskan kepada pemerintah bahwa percepatan industrialisasi perikanan akan mudah terwujud dengan penurunan PPN impor pendingan ikan tersebut," kata Budhi, Surabaya, Selasa (23/4/2017).

Ia mengatakan, belum diberlakukan aturan itu membuat banyaknya hasil industri perikanan dari Indonesia Timur seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, Maluku belum dapat dikelola dengan baik, karena adanya biaya transportasi menuju pusat industri ikan yang hanya ada di Jawa atau Kalimantan.  

Padahal menurut Budhi, hasil produksi perikanan di Indonesia cukup bagus yakni mencapai 15 juta ton per tahun. Karena kondisi yeraebut, maka hanya 7,2 ton yang bisa dikelola oleh pusat perikanan. Sisanya terbuang busuk karena masih kekuranga mesin pendingin.

"Padahal, sektor pangan di Indonesia itu dipengaruhi oleh cuaca dan waktu panen. Jika tidak ada mesin pendingin yang membekukan, stok bisa habis dan berdampak pada naiknya harga kebutuhan tersebut di pasaran," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah bisa konsentrasi dengan riset mesin pendingin, sehingga produksi ikan nasional tidak tergantung dengan asing maupun swasta.

"Ketergantungan itu sangat bahaya sekali. Karena industri perikanan di luar negeri itu sangat memperhatikan kualitas, warna dan bau ikan," katanya.

Budhi mengakui perkembangan industri perikanan di Indonesia saat ini masih terlambat dari negara lainnya seperti Vietnam yang bisa melakukan ekspor sampai US$ 7 miliar per tahun, sedangkan di Indonesia masih US$ 4 miliar per tahun.kbc6

Bagikan artikel ini: