Impor LNG tak otomatis turunkan harga gas domestik

Kamis, 16 Februari 2017 | 19:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keputusan pemerintah melakukan impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) tidak otomatis akan menurunkan harga gas di dalam negeri. Pasalnya banyak elemen yang membentuk harga gas ketika tiba di Tanah Air, meskipun harga beli dari luar negeri jauh dibawah harga pasaran domestik.

Kepala Divisi Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Sampe L. Purba dalam diskusi di Jakarta, Kamis (16/2/2017) mengatakan ada beberapa komponen pembentuk gas dimana masing-masing komponen memiliki biaya sendiri.Alhasil harga gas impor nantinya belum pasti dapat lebih rendah dibanding harga gas yang ada di dalam negeri

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyebutkan rata-rata biaya yang harus dikeluarkan sebalum LNG sampai ke end user adalah US$0,89 untuk tarif transmisi, untuk distribusi US$ 1,5 dan regasifikasi US$ 1-US$3 serta ditambah biaya shipping US$ 0,8.

Sampe menjelaskan setidaknya dua gaktor utama penyebab impor LNG belum tentu dapat dinikmati dengan harga murah pada konsumen akhir (end user). Faktor pertama, harga LNG bersifat fluktuatif dan tergantung pada  harga minyak dunia.

Faktor kedua, proses LNG hingga sampai ke konsumen akhir harus melalui beberapa tahapan,  seperti tahap pengapalan, regasifikasi, hingga pipa transmisi. Setiap proses itu memiliki komponen biaya. ''Saya katakan tidak serta-merta impor LNG akan membuat  harga turun di level pembeli akhir,'' kata Sampe.

Menurut Sampe harga gas di hulu dalam negeri sebenarnya sudah efisien. Secara rata-rata, harga gas di Indonesia sekitar US$ 8 per mmbtu. Harga itu bahkan sudah dapat ditekan lagi menjadi US$ 6 per mmbtu, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 tahun 2016.

 

Namun, kendalanya ketika di sektor hulu sudah efisien, harga gas di konsumen akhir masih tinggi lantaran ada tambahan seperti biaya regasifikasi dan tranmisi. Komponen ini yang membuat harga gas menjadi mahal sampai pembeli akhir. Apalagi ada pihak perantara (trader) dalam jual beli gas. “Komponen trader gas ini kan bukan di wilayah kita,'' kata dia.

Di sisi lain, pemanfaatan gas dalam negeri juga masih rendah karena minimnya infrastruktur. Saat ini baru ada empat infrastuktur LNG  domestik yang sudah beroperasi dan terhubung kepada penggunanya seperti fasilitas regasifikasi Arun, FSRU Lampung, Nusantara regas, dan mini LNG Teluk Benoa.

Masalah lainnya dalam industri gas adalah rendahnya penyerapan gas dalam negeri oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Menurut Sampe, faktor penghambat penyerapan gas bumi domestik adalah ketidakpastian PLN membeli gas dan cenderung mencari pasokan gas dari impor sesuai dengan nilai keekonomiannya.

Padahal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menjadi tulang punggung untuk membeli gas dalam negeri. Hal ini terlihat dari  pemanfaatan LNG saat ini mayoritas 90 persen untuk kebutuhan kelistrikan seperti untuk PLN dan IPP, sisanya baru untuk kebutuhan industri dan transportasi.

Kepastian pasokan juga menjadi kendala dalam pengelolaan gas dalam negeri. Menurut Sampe, tidak ada yang bisa menjamin gas di suatu wilayah kerja bisa mengalirkan gas hingga berapa lama. ''Kami tidak bisa menjamin apa yang ada di bawah tanah, sisi pasokan dan keekonomian lapangan,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: