Kian inovatif, JOB PPEJ targetkan Zero Gas Flare di Lapangan Mudi

Kamis, 9 Februari 2017 | 15:38 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Setelah sukses menghemat pengeluaran negara sebesar USD 2 juta Dollar AS lewat inovasi dalam proses water injection di lapangan Sukowati, kini Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ) kembali melakukan upaya meningkatkan pendapatan dengan mengejar target zero gas flare di fasilitas Central Processing Area (CPA) untuk produksi gas yang berasal dari Lapangan Mudi dan Sukowati, Blok Tuban.

Pada tahap awal ini, dari sisa gas flare di Lapangan Mudi dan Sukowati yang besarnya sekitar 3 – 4 MMscfd (juta kaki kubik per hari), sudah bisa dikurangi 0,8 MMscfd dari lapangan Mudi. Gas sebesar 0,8 MMscfd itu kini digunakan sebagai tambahan pasokan gas (feed gas) ke PT Gasuma, selaku pembeli gas buang, setelah JOB PPEJ bisa memodifikasidan memasang pipa penghubung (jumper line) di salah satu fasilitas pemrosesan gas yaitu dari separator PV-9700 (Mudi) ke gas scrubber PV-3700 yang sudah diturunkan tekanannya untuk disesuaikan dengan tekanan separator tanpa berdampak kepada suplai gas yang selama ini berlangsung di CPA Mudi.

"Setelah yang 0,8 MMscfd bisa diserap PT Gasuma, gas ikutan yang terproduksi (associated gas) dari lapangan mudi sudah tidak ada yang dibakar (flare) lagi. Selanjutnya, JOB PPEJ bekerjasama dengan PT Gasuma akan melakukan modifikasi dan inovasi lagi agar gas buang (flare) yang masih tersisa sekitar 2 MMscfd bisa menjadi zero sebagai bagian dari target pencapaian PROPER Hijau tahun 2017 ini," kata General Manager JOB PPEJ Akbarsyah didampingi FOS (Field Operations Superintendent) Fauzy Achmad Mayanullah dan Meri Iriyadi dalam siaran pers yang diterima kabarbisnis.com, Surabaya, Kamis (9/2/2017).

Akbarsyah mengakui tidak mudah untuk mencapai zero gas flare. Problem utamanya sisa gas buang yang kini ada punya tekanan sangat rendah, yakni sekitar 2 Psi. Gas buang yang ada itu adalah sisa gas yang dimanfaatkan JOB PPEJ berasal dari gas yang diproses melalui Sulphur Recovery Unit (SRU) guna mendapat gas kering bersih (dry gas) untuk bahan bakar generator pembangkit listrik internal.

"Butuh kompresor yang mampu memproses gas buang yang tekanannya tinggal sekitar 2 Psi untuk kemudian menaikkan tekanannya menjadi sekitar 65 Psi agar bisa diserap oleh Gasuma. Secara teoritis hal itu bisa dilakukan dengan penyediaan kompresor yang tepat, tetapi berpotensi untuk menimbulkan dampak terhadap fasilitas SRU karena ada efek vakum / hisap dari kompresor. Problem teknis ini yang sekarang sedang kami diskusikan bersama dengan tim teknis dari Gasuma" katanya.

Dipaparkan, ada empat keuntungan dan manfaat yang akan diperoleh JOB PPEJ jika program mencapai zero gas flare ini sukses dilakukan. Pertama, kondisi lingkungan dan masyarakat di sekitar lokasi CPA Mudi akan menjadi lebih baik lagi.

Kedua, bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan gas sisa bertekanan rendah itu. Ketiga, tidak perlu mengeluarkan anggaran terlalu besar karena PT Gasuma bersedia menyediakan fasilitas tambahan yang diperlukan seperti kompresor yang dibutuhkan atas biaya mereka. Keempat, meningkatkan kontribusi JOB PPEJ dalam mendukung ketersediaan energi nasional melalui CNG yang dibutuhkan oleh industri di Jawa Timur yang belum terlayani jaringan gas.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari spirit yang ditanamkan oleh Manajemen Pertamina Hulu Energi (PHE) agar kami sebagai anak perusahaan terus meningkatkan kinerja melalui inovasi berkelanjutan atau Continuous Improvement Program," jelas Akbarsyah.

Di bawah ambang batas

Pada bagian lain, Akbarsyah memaparkan total produksi gas JOB PPEJ kini hanya berkisar 16 – 17 MMscfd, jauh sangat turun dibanding tahun 2012-2014 yang bisa mencapai 30 MMscfd bahkan lebih. Pada saat produksi gas mencapai puncaknya dan PT Gasuma belum mampu menyerap, JOB PPEJ menggunakan alat bernama EHTF (Enclosed High Temperature Flare) untuk mengurangi dampak paparan panas dan cahaya yang ditimbulkan pada lingkungan saat dilakukan pembakaran gas buang tersebut.

"Saat itu produksi minyak di atas 35.000 barel per hari. Jadi produksi gasnya juga besar. Kini produksi minyak tinggal sekitar 12.000 – 13.000 barel per hari. Jadi produksi gas juga turun drastis," katanya.

Dari total 16 – 17 MMcsfd itu, lanjut Akbarsyah, sekitar 12 – 13 MMscfd dibeli oleh PT Gasuma yang beroperasi efektif pada awal tahun 2012. Pada tahun awal beroperasi, PT Gasuma membeli antara 10-12 MMscfd dari total produksi gas yang bisa mencapai 30 MMscfd, kemudian pada awal tahun 2013 bisa meningkat sampai 14 – 16 MMscfd dengan total produksi gas sekitar 25 MMscfd dan selanjutnya menurun bahkan di bawah 10 MMscfd dikarenakan terjadinya penurunan produksi gas ikutan di CPA. Selama itu, sisa gas yang tidak dapat dimanfaatkan oleh Gasuma maupun keperluan untuk bahan bakar pembangkit listrik internal terpaksa harus dibakar.

Kini saat produksi gas JOB PPEJ turun menjadi sekitar 16 – 17 MMscfd, lanjut Akbarsyah, kemampuan PT Gasuma menyerap gas justru meningkat. Rata-rata menyerap 12 – 13 MMscfd. Memasuki tahun 2017, tepatnya tanggal 24 Januari 2017, setelah dilakukannya modifikasi dan inovasi di fasilitas pemrosesan gas CPA, PT Gasuma menambah serapan (feed gas) 0,8 dari gas flare Lapangan Mudi.

"Karena itu dampak flare dari Lapangan Mudi sejak awal 2017 terus mengecil di bawah ambang batas. Apalagi setelah yang 0,8 MMscfd juga diserap oleh PT Gasuma," katanya.

Ditambahkan, produksi gas JOB PPEJ tidak bisa dijual semua ke Gasuma karena JOB PPEJ tetap membutuhkan sekitar 5 - 6 MMscfd untuk mendukung proses produksi seperti treatmen minyak di fasilitas CPA dan lokasi-lokasi sumur Mudi dan juga untuk kebutuhan tenaga listrik internal. “Gas yang diproses internal itu diolah untuk membuang kandungan sulfur dan H2S dalam alat yang bernama Sulfur Recovery Unit (SRU) untuk mendapatkan gas bersih (dry gas) sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

"Dari proses ini masih tersisa gas kotor sekitar 2 – 3 MMscfd yang bertekanan sangat rendah sekitar 2 Psi. Gas inilah yang kini sedang diupayakan agar bisa diserap juga oleh PT Gasuma agar mencapai zero gas flare," paparnya.kbc6

Bagikan artikel ini: