Impor LNG hanya untuk produsen ketenagalistrikan

Kamis, 26 Januari 2017 | 20:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rencana pemerintah mengimpor gas alam cair (liquified natural gas/LNG) ternyata hanya diperuntukkan kepentingan sektor ketenagalistrikan. Artinya, sinyal lampu hijau itu akan diberikan kepada PT PLN (Persero) dan produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyatakan rencana penerapan impor LNG bertujuan untuk bisa menekan tingginya harga listrik yang disebabkan mahalnya harga gas domestik. Langkah ini dinilai lebih efisien dibandingkan harus melakukan berbagai penataan ulang dalam pengelolaan gas. "Supaya harga listrik bisa lebih kompetitif atau bisa lebih terjangkau masyarakat. Kalau pembangkit iya (diberikan izin). Itu saya setuju,” ujar Jonan di Jakarta, Kamis (26/1/2017).

Menurut Jonan, selama ini perdebatan sering terjadi karena rezim pengelolaan gas mengunakan cost recovery. Apalagi terdapat proses panjang dalam transmisi dan distribusi gas. "Kalau bedanya jauh dengan yang diluar negeri pasti sulit bersaing. Orang bilang hulunya tidak apa-apa, tapi ditengahnya, didisribusi, transmisi, ini biar bisa bersaing harganya,” kata Jonan.

Jonan mengatakan pemerintah sudah siap menerbitkan aturan main dalam melakukan impor LNG. "Impor LNG digunakan untuk sendiri tidak boleh melalui perantara pihak ketiga atau trader,” ungkapnya.

Jonan menegaskan rencana pemberian ijin impor selain untuk memenuhi kebutuhan gas, juga diharapkan bisa menjadi salah satu faktor yang bisa mendorong penurunan harga gas secara alami. Persaingan harga yang akan timbul antara gas impor dan ketersediaan domestik, serta mampu mendorong penurunan harga listrik agar bisa bersain dengan level internasional. “Gas sangat bersiang internasional, ada fair market tarif listrik juga,” tukasnya.

Adapun pasokan gas untuk sektor industri, menurut Jonan harus menanti keputusan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Namun, dia menyebut bila harga jual gas pipa di dalam negeri tak sesuai dengan kemampuan industri, opsi impor bisa dilakukan. Asalkan, harga jual LNG lebih rendah dari harga jual LNG domestik.

Bila impor dilakukan,sambung Jonan memang akan menekan industri hulu dalam negeri yang selama ini membebankan ongkos produksi kepada konsumen dan menyebabkan harga jual gas yang tinggi. Di sisi lain pemerintah pun tak bisa memastikan apakah industri hulu dan hilir telah melakukan kegiatan secara efisien.

Menurutnya, daripada berdebat soal harga, lebih baik dia menyebut membuat pelaku usaha bersaing menetapkan harga yang paling kompetitif."Lah, kalau ini dibahas satu-satu ini akan debat panjang. Akhirnya, debatnya debat harga. Bersaing aja," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: